Penunggang Kardus

Mereka datang bersama kardus-kardus mereka yang berasal dari tumpukan sampah, menuju ke jalan raya untuk mengais rejeki dengan mengisi kardus-kardus mereka dengan sembarang hanya untuk kepentingan pribadi tanpa memperhatikan hukum yang ada.

Mereka datang bersama kardus-kardus mereka untuk mengacaukan jalan raya, menganggu dan memangkas rejeki orang-orang hanya untuk keuntungan pribadi mereka yang sebenarnya tidak ada nilainya jika dibandingkan dengan apa yang mereka perbuat. Merugikan waktu, tenaga, harta, dan hal lainnya yang tentunya tidak ada artinya dari beberapa ribu rupiah yang didapat dari gangguan yang mereka lakukan.

Mereka datang bersama kardus-kardus mereka tanpa hati, mereka enggan bekerja jika kardus-kardus mereka belum terisi penuh sekali. Sudah penuhpun mereka masih tidak bisa bekerja dengan benar, sepertinya tidak puas jika belum menyusahkan pengguna jasa kardus-kardus itu ataupun pengguna jalan lainnya. Terkadang bisa berbahaya tatkala sudah merasa seperti raja, menganggap yang lainnya adalah rakyat jelata yang bisa dikorbankan demi kepentingan mereka saja.

Merekalah penunggang-penunggang kardus dengan pelayanan tanpa hati, berkedok sebagai pelayan kepentingan umum yang akhirnya malah merusak kepentingan umum lainnya.

Salam Singkat

Setelah melalui pergulatan batin yang terkesan rumit namun tidak penting, akhirnya saya mendapatkan “hidayah” untuk kembali menulis disini walau sekedar tulisan singkat dan tidak penting. Setelah beberapa lama semenjak tulisan terakhir saya, tanpa sadar status saya dalam dunia Blog adalah “Hiatus” dikarenakan kealpaan saya di dunia Blogging bahkan hanya untuk sekedar Blogwalking. Jujur saja, bersamaan dengan puasanya saya akan makan dan minum selama bulan Ramadhan kemarin yang juga meliburkan saya dari kegiatan keseharian saya (baca : sekolah) ternyata juga memuasakan dan meliburkan inspirasi dan gairah saya untuk menulis sekalipun saya selama liburan itu berjam-jam berinternet-ria

Kosongnya Blog ini juga bukan berarti karena saya tidak punya ide. Walaupun banyak ide yang bermunculan selama itu, biasanya hanya saya lampiaskan dalam diskusi-diskusi yang saya ajukan bersama orang-orang yang akomodatif, atau bisa juga saya lampiaskan kedalam bentuk Microblog milik saya di Plurk maupun Twitter yang tentunya lebih berpotensi mengundang diskusi dan mampu disimpan dalam waktu lama dibandingkan dengan diskusi yang tadi saya sebutkan yang kadang malah hanya menjadikan segala ide-ide saya sebagai retorika belaka.

Saya jadi berpikir juga, betapa banyaknya ide-ide saya yang kebanyakan tidak jelas itu terbuang sia-sia di Microblog bukannya dijabarkan lebih lanjut dalam Blog (Hal ini pernah dibahas juga oleh Xaliber lewat Facebooknya)., juga ide-ide yang terbuang sia-sia dalam percakapan lewat Yahoo Messenger. Membuat saya terpikir untuk mengumpulkan ide-ide yang pernah tertulis di Microblog saya (Karena Yahoo Messenger sejarahnya tidak bertahan lama maka percakapan-percakapan yang dulu-dulu hilang semuanya T_T). Karena pada suatu kesempatan saya pernah menelusuri Timeline Plurk saya sewaktu peringatan “ulang tahun” Plurk pertama saya pada 3 September 2009, saya menelusurinya hingga setahun sebelumnya yaitu pada 3 September 2008. Saya melihat betapa banyaknya ide yang kebanyakan bodoh ada dan belum sempat dijelaskan. Oleh sebab itu, saya terpikir untuk mengumpulkan dan menyatukan dalam satu file disini. Lagipula, terkesan seperti mengumpulkan jurnal harian bukan?

Akhir kata, sekianlah dulu salam singkat dari saya ini. Jika dalam beberapa minggu kedepan saya masih belum mengupdet Blog ini atau belum Blogwalking. Tandanya saya sedang sibuk karena urusan sekolah, atau bisa juga sedang dalam “studi”, atau terjebak dalam suatu hal yang menyebabkan saya tidak bisa menuliskan ide-ide saya.

Geografi

Geografi atau dalam Bahasa Indonesia disebut juga Ilmu Bumi. Ilmu yang mencakup Bumi dan Alam Semesta ini dalam kurikulum pendidikan SD hingga SMA dimasukkan sebagai cabang pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial atau disingkat IPS. Jadi, tatkala mengalami penjurusan di SMA pada kelas 2 atau beberapa sekolah pada kelas 1 semester 2, mata pelajaran satu ini digolongkan sebagai pelajaran untuk jurusan IPS. Sedangkan jurusan IPA tidak mendapatkan pelajaran satu ini.

Suatu hari, saya terinspirasi dengan percakapan teman saya mengenai perihal pelajaran ini

“Gw anak IPS belajar Geografi padahal nanti kuliah kan Jurusan Geografi harus dari IPA, sedangkan lo pada anak IPA malah gak dapet Geografi padahal bisa masuk Jurusan Geografi. Seharusnya Geografi itu masuknya ke IPA, bukan IPS”

Saya jadi terpikir juga mengenai masalah ini, mengapa pelajaran Geografi dimasukkan kedalam Ilmu Sosial sedangkan di kuliah nanti malahan Geografi digolongkan dalam jurusan Ilmu Alam yang dimana anak IPS tidak bisa masuk kesana kecuali dengan mengikuti IPC yang tentu saja dengan susah payah harus mempelajari pelajaran IPA selama 3 tahun di SMA.

Tidak sinkron rasanya jika seperti ini, mereka yang telah belajar Geografi secara mendalam selama SMA malahan jadi tidak bisa melanjutkannya jika kuliah nanti. Sedangkan yang tidak mempelajarinya malahan yang memiliki kesempatan untuk masuk, yang tentunya membuat ketika masuk kesana menjadi cukup kaget karena di SMA ketika terspesialisasi tidak mendapatkan Geografi.

Bagaimana pendapat anda?

Nomor Handphone

Beberapa tahun lalu ketika Handphone tidak semurah dan sebanyak sekarang, cara mendapatkan sebuah nomor Handphone tidaklah semudah sekarang. Pada saat itu, harga sebuah nomor Handphone masih mahal dan harus ke kantor Provider Handphone tersebut untuk mendaftarkannya dan memang harus berlangganan secara bulanan. Jadi, sistem nomor Handphone pada saat itu lebih teratur karena memang harus didaftarkan secara langsung menggunakan identitas asli.

Namun seiring dengan bertambahnya provider Handphone akibat pengguna Handphone yang bertambah secara luar biasa, Provider Handphone berlomba-lomba memperebutkan konsumen dengan berbagai cara. Salah satunya dengan memudahkan seseorang untuk memiliki nomor handphone tanpa pendaftaran ke provider dan dengan harga yang sangat murah serta menidakwajibkan pengguna Handphone untuk berlangganan, cukup dengan membeli sejumlah pulsa yang harganya berkisar 5rb-250rb yang memiliki masa tenggang penggunaannya.

Karena mudahnya sistem untuk mendapatkan nomor Handphone, setiap orang bisa saja memiliki berbagai nomor Handphone tanpa informasi jelas mengenai siapa pemilik nomor tersebut. Hal ini tentu saja berpotensi menyebabkan berbagai hal negatif seperti teror, penipuan, dan hal-hal tak bertanggungjawab lainnya akibat anonimitas dalam kepemilikan nomor telepon. Dan bisa saja tidak terlacak jika saja setelah memakai nomor itu langsung dibuang.

Provider Handphone di Indonesia seharusnya memang tidak membiarkan adanya anonimitas dalam kepemilikan nomor Handphone. Memang sekarang ini ada upaya untuk memaksa pengguna Handphone mendaftarkan nomornya disertai identitas asli mereka untuk mencegah hal-hal yang tak diinginkan. Namun hal itu tidak terlalu berdampak karena mudahnya memalsukan identitas disitu. Jadi, memang sebenarnya lebih baik harus mendaftarkan langsung untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.

Diskusi : Petasan

Semenjak awal bulan puasa ini, petasan sangat banyak dijual dimana-mana. Hal ini disebabkan karena maraknya permainan petasan selama bulan puasa terutama saat atau setelah Shalat Tarawih. Anak-anak sangat senang memainkan permainan satu ini ketika malam hari.

Keheranan saya, mengapa hal ini terjadi setiap tahun ya? Padahal korban sudah berjatuhan setiap tahun akibat petasan yang dimainkan oleh anak-anak itu. Dan, mengapa justru munculnya pada bulan yang katanya bulan untuk meningkatkan ibadah? Padahal, bukankah petasan jauh lebih menganggu ya daripada orang yang berjudi?

Mari berdiskusi :D

Bulan Baik, atau Bulan Munafik?

Bulan Ramadhan, bulan yang dikatakan sebagai Bulan baiknya umat Islam. Bulan yang digembor-gemborkan sebagai bulan kebaikan serta penuh ampunan dan rahmat dari Tuhan. Konon, segala amal kebaikan dibulan Ramadhan bernilai jauh lebih banyak hingga beratus-ratus kali lipat dibandingkan pada bulan lainnya.

Karena itulah, di bulan Ramadhan orang-orang mendadak menjadi sangat religius. Mereka meningkatkan ibadah dan amal kebaikan mereka. Mereka menjadi “islami”. Orang-orang menjadi sangat latah terhadap bulan Ramadhan, dan menganggap itulah bulan untuk menunjukkan eksistensi Islam mereka.
Acara-acara di televisi dibuat se-”islami” mungkin, lalu berbagai acara-acara sosial seperti buka puasa bersama fakir miskin dan bakti sosial diadakan untuk menyambut bulan Ramadhan. Dan intinya, semuanya mendadak menjadi sangat “islami”

Tapi, apakah yang akan terjadi andaikata bulan Ramadhan tidak dijanjikan pahala berlipat ganda dan jaminan surga ? Apakah mereka akan melakukan itu juga? Apakah mereka akan menjadi religius juga? Akankah nuansa bulan Ramadhan akan berubah dari bulan-bulan lain?

Well, to the point. Segala perubahan ini terkesan sangat munafik jika jawaban pertanyaan diatas adalah tidak. Segala perubahan yang terjadi selama bulan Ramadhan bukanlah menjadi suatu hal yang baik, tetapi malah menjadikan sebuah kebohongan terutama kepada Tuhan. Perumpamaannya adalah, mereka adalah pegawai yang berpura-pura baik hanya jika bosnya akan memberikan suatu bonus. Setelah diberikan, bosnya
akan kembali dicela dari belakang. Seperti ibaratnya orang-orang yang berhenti menikmati maksiat hanya ketika puasa dan kembali melakukannya setelah Ramadhan.

Apakah perubahan-perubahan itu hanya suatu bentuk kelatahan? Atau hanya “gertak sambal” yang ditujukan kepada Tuhan? Silahkan dijawab sendiri.

PS : Ditulis pada malam hari, maaf kalau ngawur ^^

Hari Kemerdekaan?

Belakangan ini, pembicaraan mengenai kemerdekaan dan nasionalisme sering terdengar dalam keseharian kita. Setiap orang meneriakkan semangat kemerdekaan di mana-mana. Tidak heran, sebentar lagi Indonesia akan memperingati Proklamasi Kemerdekaannya yang akan jatuh pada tanggal 17 Agustus nanti. Enam puluh empat tahun silam pada tanggal itu, pada pukul 10.00 pagi, Ir. Soekarno dan Drs. Muhammad Hatta membacakan teks proklamasi dihadapan umum yang menyatakan kemerdekaan Indonesia, dan seluruh rakyat Indonesia menyambut dengan gembira pernyataan tersebut.

Namun, menurut penulis itu hanyalah pembacaan teks proklamasi belaka. Karena sampai saat inipun bangsa Indonesia masih terjajah. Walaupun penjajahan secara fisik negara ini telah berakhir semenjak penyerahan kedaulatan negara pada 27 Desember 1949, kita belum bisa dikatakan bebas, kita belum merdeka. Bangsa ini masih terjajah baik dari dalam maupun dari luar. Sudah banyak orang yang mengetahui penjajahan apa saja yang datang dari luar, yaitu penjajahan politik, sosial, dan perekonomian. Karena itu, penulis akan membahas tentang penjajahan yang datang dari dalam bangsa Indonesia sendiri, yaitu:

Pertama, bangsa Indonesia masih terjajah oleh kebodohan. Bangsa kita masih belum memiliki pemikiran yang semaju bangsa-bangsa lain. Kebodohan yang dimaksud dalam penulisan ini bukan dalam hal pendidikan, mengingat masyarakat Indonesia belajar lebih banyak mata pelajaran dari negara-negara lain. Hal ini bisa dilihat dari padatnya kurikulum pendidikan di Indonesia. Kebodohan dalam penulisan ini lebih kepada pola pikir bangsa Indonesia yang cenderung lebih sempit akibat pendoktrinan akan kebencian, kedengkian, dan pemikiran “semau gue” serta “budaya instan” yang merajalela di negara ini. Contoh yang paling mudah dalam keseharian kita adalah dalam hal berlalu lintas. Banyak pengendara kendaraan bermotor yang melanggar aturan berlalu lintas di jalan raya. Mereka melihat adanya larangan dan tahu bahwa hal itu salah, tetapi dengan kebodohannya, masih saja melanggar itu dengan “sok tahu”. Lebih parah lagi, mereka terkadang ngotot jika ditegur oleh orang lain, apalagi orang yang dianggap bukan kaumnya. Bisa dikatakan “Sudah bodoh, sok tahu pula”.

Kedua, bangsa Indonesia masih terjajah oleh rasa takut. Rasa aman masih menjadi sebuah komoditas yang mahal di negara ini. Kedengkian, “budaya instan”, dan tentunya kebodohan adalah penyebab utamanya. Semua itu membuat kita tidak saling percaya satu sama lain. Tentu saja ketidakpercayaan menyebabkan hilangnya rasa aman dan nyaman akan suatu hal dan selanjutnya mengarah kepada ketakutan. Contoh penjajahan oleh ketakutan yang paling baru dan ngetren adalah terorisme.

Ketiga, bangsa Indonesia masih terjajah oleh kemalasan. Malas untuk bekerja sungguh-sungguh dalam segala hal dan malas untuk peduli pada sesama, malas untuk memiliki inisiatif, malas untuk maju, malas untuk berusaha dan bekerja keras, dan segala kemalasan lainnya. Kemalasan adalah yang paling berat diantara ketiga penjajahan yang dimaksud, karena kemalasan menghambat perubahan dan tentu saja menghambat kemajuan.

Masih banyak lagi hal yang menjajah bangsa ini. Namun, pada intinya adalah bangsa Indonesia belum bisa dikatakan merdeka sepenuhnya baik dari dalam maupun dari luar. Memang, kita tidak mungkin mampu benar-benar lepas dari pengaruh dan pengaturan dari ketiga hal itu. Tapi, apabila bangsa Indonesia mampu melawan setidaknya 50% dari ketiga hal di atas, setidaknya bangsa ini bisa dikatakan merdeka.

Dalam tulisan ini, penulis berharap bahwa masyarakat Indonesia tidak menganggap bangsa ini sudah merdeka dari segala aspek kehidupan. Hari Peringatan Proklamasi Kemerdekaan yang jatuh pada 17 Agustus nanti dapat dijadikan momentum untuk mengingatkan bahwa perjalanan menuju kemerdekaan yang sesungguhnya masih jauh. Untuk itu, marilah kita sebagai masyarakat Indonesia yang peduli pada negeri ini berjuang bersama-sama demi meraih kemerdekaan seutuhnya.

Noordin datang Lapindo menghilang

Sebelumnya, bacalah kutipan dari sini

SURABAYA, KOMPAS – Setelah empat kali berkas perkara pidana Lapindo dikembalikan ke Kejaksaan Tinggi Jawa Timur, Kepolisian Daerah Jawa Timur akhirnya menerbitkan surat perintah penghentian penyidikan. Menurut polisi, kasus semburan lumpur Lapindo bukan perkara pidana.

Keputusan penghentian penyidikan kasus Lapindo tertuang dalam surat perintah penghentian penyidikan (SP3) yang ditandatangani Direktur Reserse Kriminal Kepolisian Daerah Jawa Timur Komisaris Besar Edy Supriyadi tertanggal 5 Agustus 2009.

”Kami sudah berusaha semaksimal mungkin. Empat kali berkas perkara dikirim ke jaksa penuntut umum, tetapi selalu dikembalikan. Hingga saat ini, kami tak mampu memenuhi petunjuk jaksa,” ucap Kepala Bidang Humas Polda Jatim Komisaris Besar Pudji Astuti, Jumat (7/8) di Surabaya.

Petunjuk yang diminta jaksa adalah membuktikan korelasi dan sebab akibat semburan lumpur yang keluar pada radius 150 meter dari lubang sumur pengeboran Banjar Panji I.

Tak ada saksi

Menurut Pudji, sulitnya pembuktian disebabkan tak ada saksi saat kejadian. Selain itu, belum ada ahli yang bisa membuktikan korelasi antara sebab semburan lumpur dan keberadaan sumur pengeboran. ”Belum bisa dibuktikan mata bor menyentuh lumpur yang keluar dari titik semburan,” ujarnya.

Keputusan polisi diperkuat putusan gugatan perdata (class action) yang diajukan Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) dan Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia terhadap Pemerintah Indonesia dan PT Lapindo Brantas. Pengadilan—mulai dari pengadilan negeri sampai Mahkamah Agung—menyatakan tak terjadi perbuatan melawan hukum atas pengeboran di Banjar Panji I oleh PT Lapindo Brantas.

Menyusul dikeluarkannya SP3 tersebut, korban lumpur Lapindo menyatakan khawatir sisa pembayaran ganti rugi lahan mereka akan tersendat.

”Saya heran atas keputusan tersebut (dikeluarkannya SP3). Bila penyidikan kasus Lapindo dihentikan, bagaimana kelanjutan pembayaran ganti rugi kepada korban lumpur? Ini kan belum ada kejelasannya,” keluh Wakil Ketua Paguyuban Warga Renokenongo Korban Lapindo (Rekorlap) Pitanto, di Sidoarjo kemarin.

Secara terpisah, Asisten Pidana Umum Kejaksaan Tinggi Jatim Eddy Rakamto mengatakan, pihaknya belum menerima pemberitahuan Polda Jatim tentang SP3 itu. ”Kami harus menelaah kasus itu beberapa hari untuk mengetahui alasan penghentian kasusnya,” ujarnya.(ABK/APO/BEE)

Well, berita yang muncul beberapa hari sebelum kasus pengepungan Noordin M. Top ini menjadi terabaikan dan bahkan sangat jarang terekspos dalam berita. Saya saja baru mengetahu berita ini setelah dikabarkan seorang teman

Pemberitaan mengenai Noordin M. Top yang sangat dibesar2kan, telah menutup perhatian publik terhadap kasus yang berhubungan dengan Lapindo ini. Memang, saat ini masyarakat sedang terlena dengan fenomena teroris akibat bom yang terjadi pada 17 Juli 2009 lalu di Ritz Carlton dan J.W Marriott yang berdampak ke banyak hal lainnya dalam pariwisata. Jadi ketika “gembong” teroris satu ini tersorot, semua perhatian publik langsung menuju kesana.

Mengapa nampak agak seperti kebetulan ya? Karena adanya berita penyergapan Noordin M. Top, kasus SP3 Lapindo ini menjadi hampir tak tersentuh dalam berita-berita. Memang, disamping kalah pamor dengan Noordin M. Top. Berita Lapindo ini sudah terlalu berlarut-larut dan banyak yang sudah bosan. Jadi, kalah menarik perhatian.

Tapi, ya sudahlah. Ada pendapat?

Nilai? Penting gak sih?

Jika kemarin saya berbicara mengenai PR, saya kali ini lebih tertarik membicarakan nilai. Mengapa? Dalam sistem pendidikan di Indonesia seringkali terlalu membesar2kan nilai angka. Nilai dianggap sering kali benar-benar mencerminkan si siswa tersebut dalam pelajaran itu. Jika nilainya bagus, dianggap pintar dan tuntas. Jika nilainya tidak bagus, dianggap kurang pintar dan harus mengulang materinya itu.

Anggapan bahwa nilai sangat menggambarkan itu menyebabkan adanya suatu patokan nilai. Nah, urusan ini yang membuat saya bingung. Mengapa? Karena jika siswa nilainya dibawah standar, harus diulang hingga mencapai ketuntasan. Hal ini saya kurang suka sebenarnya, karena ini namanya standarisasi paksa. Seharusnya nilainya dibiarkan sehingga lebih terlihat perbedaan antar siswa itu. Bukannya sombong, tapi agar mereka juga terlihat lebih jelas bagaimana perbedaan kemampuan mereka.

Lalu? Bagaimana? Menurut saya sebaiknya nilai tidaklah perlu ada standar, karena standarisasi nilai menurut saya penuh kepalsuan. Lagipula, saat ini seharusnya janganlah mematok standar. Tetapi seharusnya siswa lebih diajak supaya memperoleh nilai setinggi2nya.

Standarisasi yang paling menyebalkan menurut saya adalah antara UN dan sekolah negeri, NEM dianggap sebagai dewa oleh penerimaan sekolah negeri, NEM hampir merupakan segalanya. Jika NEMnya jelek, maka hanya mendapat sekolah Negeri yang jelek.

Walaupun saya mengatakan demikian, namun saya rasa sistem yang saya ungkapkan memang sulit diterima.

PS : Agak ngaco memang, sori ^^

Kelas 2 SMA

Kelas 2 SMA, masa yang sering dianggap sebagai masa-masa terindah selama kehidupan SMA. Karena, disamping sudah terjurus mata pelajarannya. Karena sudah tidak berada dalam tekanan kakak kelas seperti kelas 1 atau belum mempersiapkan diri untuk Ujian Akhir dan persiapan untuk masuk ke perguruan tinggi. Karena tekanannya relatif lebih ringan dibandingkan anak kelas 1 yang belum terjurus, banyak kegiatan, dan dibawah bayang2 kakak kelas dan anak kelas 3 yang terlalu sibuk mempersiapkan ujian.

Biasanya, anak-anak kelas 2 akan menggunakan “keringanan” ini untuk berekspresi dan menunjukkan diri. Mereka menjadi “penguasa” kegiatan sekolah, merekalah pengurus organisasi-organisasi sekolah seperti OSIS, MPK, maupun ROHIS, dll. Lalu juga mengurus kegiatan Ekskul, serta Pensi dll.

Karena begitu, banyak siswa kelas 2 SMA yang aktif khususnya ingin “merajai” segala kegiatan itu. Segala kesempatan diambillah. Dan jadilah mereka sibuk dalam urusan2 itu.

Lalu? Apakah yang sebenarnya saya ingin sampaikan?

Ternyata, pelajaran anak kelas 2 SMA (terutama IPA, kurang tahu yang IPS) jauh lebih susah dibandingkan kelas 1 maupun kelas 3 nantinya (karena banyak mengulang atau hanya sebagai bentuk modifikasi). Dikhawatirkan dengan banyaknya kegiatan, menjadi suatu gangguan besar dalam urusan akademik.

Jadi, walaupun kegiatan2 itu juga bersifat mendidik, karena melatih kepemimpinan, berorganisasi, dan sebagainya. Kegiatan akademik kurikulum juga tidak bisa diabaikan begitu saja, ingatlah bahwa fokus utama yaitu mengejar kurikulum sekolah tidak bisa diabaikan.

Intinya, selamat mengurus Organisasi, Ekskul, dll. Wahai anak-anak kelas 2, tapi harap jangan lupa untuk tetap mengejar pelajaran