Sekitar bulan Mei tahun 2010 lalu tatkala saya terakhir kali mengupdate blog ini dengan suatu tulisan, atau bahkan beberapa waktu lalu sebelum saya kembali mengecek blog ini dan merapikannya, nampaknya saat itu masih terpampang kalau status saya pada saat terakhir mengurus blog ini saya masih berada di kelas 11 SMA atau kelas 2 SMA. Kira-kira sebulan atau dua bulan setelahnya saya dinyatakan naik ke kelas 3 SMA, masa-masa yang saya rasa sangat sibuk dan memusingkan akibat berbagai hal yang harus saya hadapi seperti Ujian Nasional dan Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri yang tahun banyak menghadapi keombang-ambingan seperti yang saya bahas di tulisan saya sebelum ini. Untuk masuk ke Perguruan Tinggi Negeri yang diinginkan pada tahun 2011, para peminat dibuat bingung dengan perubahan sistem penerimaan mahasiswa baru yang terkesan dadakan dan bahkan agak maksa, semisal dengan peniadaan jalur mandiri di beberapa PTN yang pada tahun-tahun sebelumnya sudah dilaksanakan, kemudian dengan adanya juga jalur SNMPTN Undangan (jalur tanpa tes dengan raport dan prestasi lainnya) yang sampai sekarang juga masih masih menjadi kontroversi akibat penilaian yang dianggap tidak transparan dan kuota yang diberikan juga terlalu banyak lewat jalur itu, sistem yang serba dadakan dan tidak jelas ini membuat banyak pihak kecewa dengan diadakannya jalur ini (termasuk penulis)
Ujian Mandiri
3 05 2010Sebulan lamanya sejak saya terakhir kali menulis di Blog ini dan saya merasa sudah tertinggal terlalu banyak hal yang (mungkin) menarik bagi saya, yang berarti juga ketinggalan untuk menulis beberapa hal menarik. Lalu? Sudahlah, bukan untuk membicarakan kealpaan saya tulisan ini.
Terinspirasi dari bacaan koran di Perpustakaan pagi tadi, dimana banyak artikel dari koran itu yang berbicara tentang PTN dan UU BHP (Undang-Undang Badan Hukum Pendidikan). Tentu sebenarnya buka berita benar-benar baru lagi itu, tapi entah mengapa masih marak dibicarakan setiap hari. Memang, sudah dicabut Undang-Undang yang konon tidak adil bagi rakyat kecil karena PTN dianggap melakukan komersialisasi kesempatan pendidikan dengan adanya Ujian Mandiri yang berujung pada banyaknya pungutan dan sumbangan sejak pendaftaran tes hingga masuk kuliah. Nah, bagaimana dengan nasib Ujian Mandirinya tetapi?
Ada wacana bahwa Ujian Mandiri akan dihapuskan juga, dan segera muncul berbagai kontroversi mengenai hal ini. Bagi yang mendukung penghapusannya, mereka beranggapan bahwa Ujian Mandiri menyakiti perasaan rakyat kecil karena mahalnya biaya Ujian Mandiri lalu besarnya kuota masuknya. Menurut Kompas misalkan, pada tahun 2010 ini Universitas Gajah Mada hanya akan memberikan jatah 11% dari jalur SNMPTN (Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri) dari total kuota 7.145 dimana 4.000 diambil dari jalur Ujian Tertulis dan 2.179 dari jalur Penelusuran Bibit Unggul. Begitu pula dengan banyak PTN lainnya yang memberikan jatah masuk PTN melalui SNMPTN hanya sedikit kuota. Padahal SNMPTN itu diseleksi secara Nasional dan serentak se-Indonesia dan ditambah lagi biayanya yang relatif murah (Rp150.000 untuk tes IPA/IPS dan Rp175.000 untuk tes IPC), tentu saja pesertanya sangat banyak. Namun mereka yang berjuang melalui SNMPTN yang dianggap soalnya sangat susah harus “mengalah” dengan yang masuk dengan jalur mandiri.
Sedangkan bagi mereka yang tidak setuju dengan penghapusannya, beberapa dari mereka khususnya kalangan dari Universitas beranggapan bahwasanya PTN di Indonesia sangat butuh Biaya dan Sumbangan dari ujian masuk Mandiri itu dikarenakan dana dari pemerintah sama sekali tidak mencukupi biaya kebutuhannya. Menurut Kompas lagi misalnya, Institut Teknologi Bandung hanya menerima Rp185 Miliar dari total kebutuhan Rp700 Miliar sedangkan sisanya dari Mahasiswa dan Alumni serta Kerjasama Penelitian dan Proyek Ilmiah, dan juga Universitas Indonesia hanya menerima Rp300 Miliar dari total kebutuhan Rp1.400 Miliar dan sisanya harus diusahakan sendiri dari Kerjasama dengan Industri dan sumbangan Alumni. Memang, alasan kekurangan biaya menjadi salah satu argumen terkuat untuk menentang penghapusann Ujian Mandiri. Ketika saya berdiskusi singkat dengan guru saya tadi, beliau beranggapan bahwa mustahil PTN akan serta-merta menghilangkan salah satu sumber pemasukan terbesarnya secara total tanpa adanya alternatif lain seperti peningkatan pemasukan dari pemerintah.
Lalu, menurut saya pribadi permasalahan yang akan terjadi dengan ketiadaan Ujian Mandiri adalah jika hanya ada SNMPTN saja maka mereka yang ingin masuk PTN akan kehilangan kesempatan untuk mencoba beberapa PTN dikarenakan SNMPTN hanya diadakan sekali sehingga jika mereka gagal di SNMPTN maka mereka akan kebingungan kemana apalagi jika tidak mendaftar masuk PTS sebelumnya. Jadi menurut saya Ujian Mandiri juga memberikan kesempatan lebih banyak memang.
Aneh memang menurut saya, karena dua dekade lalu hanya ada satu jalur masuk tetapi tidak banyak permasalahan seperti sekarang. Ada pendapat?
Komentar : 8 Komentar »
Kaitkata: indonesia, pendidikan, ptn, snmptn, ujian mandiri, universitas, uu bhp
Kategori : Diskusi, Kritik, Ladang Berpikir
Idealisme Pekerjaan
3 04 2010(Entah bagaimana judulnya, terserah andalah)
Setiap orang wajar untuk selalu ingin hidup lebih baik dan lebih berkembang, maka dari itu banyak orang berharap untuk mendapatkan pekerjaan lebih baik dengan berpenghasilan lebih dan prospeknya terjamin. Untuk mendapatkan pekerjaan seperti itu tentu saja diperlukan latar pendidikan yang baik dan beberapa bahkan membutuhkan sejumlah pengalaman untuk itu.
Ya, seperti itulah tipikal keinginan seseorang. Dimana seseorang ada kesempatan bekerja di tempat, atau di posisi dengan prospek dan penghasilan yang lebih baik mereka akan pindah kesana berharap hidupnya lebih berkembang dan memiliki berbagai pengalaman baru untuk hidupnya kemudian nanti.
Maka dari itu banyak orang yang dianggap cerdas menginginkan dan atau diinginkan untuk masuk kedalam bidang yang dianggap menjanjikan seperti Kedokteran, Ekonomi, Psikologi, Teknik, Hubungan Internasional, atau jurusan-jurusan yang dianggap memiliki prospek kerja yang lumayan dan akibatnya persaingan masuk kesana jadi ketat karena itu.
Begitulah jadinya, keinginan untuk menjadi lebih baik memang stereotipe manusia. Tapi bagaimana jika ada orang-orang yang tidak tertarik untuk hal seperti ini?
Semisal dulu saya diceritakan oleh guru saya, beberapa tahun lalu di sekolah saya ada seorang siswi di sekolah saya yang sewaktu kelas satu dan duanya mendapatkan peringkat satu seangkatannya. Tapi, dia saat kenaikan ke kelas tiga (saat itu penjurusan terjadi di kelas tiga) lebih memilih ke IPS yang padahal katanya dia jauh lebih pantas masuk IPA yang dianggap lebih berkelas dan berisikan anak-anak cerdas. Dan saat dia kuliah pun dia bahkan memilih untuk masuk Jurusan Sastra Cina yang notabene kurang difavoritkan di Jurusan IPS dibandingkan Ekonomi, Akuntansi, Manajemen, Hukum, ataupun favorit yang lainnya. Tapi demikianlah, rupanya itu memang benar-benar keinginannya murni sesuai idealismenya.
Jika semua orang-orang cerdas dan berbakat ingin masuk ke jurusan atau pekerjaan favorit saja lalu akibatnya jurusan atau pekerjaan yang tidak difavoritkan itu bagaimana nantinya tanpa orang-orang cerdas dan berbakat itu? Semisal jika semua orang cerdas dan berdedikasi ingin menjadi bos atau orang-orang dengan pekerjaan “tinggi” lainnya, bagaimana dengan bawahan2 bosnya atau orang-orang yang tidak berpekerjaan “rendah”? Tentu saja perlu orang-orang cerdas dan berdedikasi untuk pekerjaan-pekerjaan itu.
Intinya, tidak ada yang salah jika ada orang yang dinilai cerdas dan berpotensi tapi lebih memilih pekerjaan yang dirasa kurang “tinggi”. Semua hanya tergantung keinginan dan potensinya sendiri.
Sekianlah, dan jika anda kurang mengerti mohon maaf.
Komentar : 29 Komentar »
Kaitkata: gak jelas, idealisme, potensi
Kategori : Ladang Berpikir
Presentasi
21 03 2010Dalam materi kurikulum sekolah masa kini, siswa banyak diajarkan untuk berpresentasi dalam berbagai mata pelajaran. Baik presentasi hasil penelitian lapangan, praktikum ilmiah, diskusi, rangkuman pelajaran, atau memang pelatihan presentasi tujuan lain seperti latihan mempresentasikan produk/jasa dalam pelajaran Bahasa Inggris.
Pelatihan Presentasi sejak masa sekolah sangat bagus dan bermanfaat menurut saya, karena didalam jenjang kehidupan selanjutnya seperti masa kuliah apalagi masa kerja akan banyak dibutuhkan kemampuan berpresentasi di muka umum. Untuk mendapatkan gelar dari jenjang perkuliahan, seseorang harus mampu mempresentasikan hasil skripsi/tesis/disertasi nya ke hadapan pengujinya. Beberapa sekolah SMA bahkan mewajibkan pembuatan karya tulis yang harus dipresentasikan juga kepada penguji untuk kelulusan SMA, tentu ini seperti latihan pembuatan skripsi/tesis/disertasi itu hanya saja biasanya tema yang diambil lebih ringan . Apalagi di dunia kerja, kemampuan berbicara di muka umum lebih diperlukan. Dalam pekerjaan yang berkaitan dalam perdagangan misalnya, seseorang harus mampu mempresentasikan produknya kedepan calon pembelinya. Dalam pekerjaan yang berkaitan dengan keilmuan, seseorang harus mampu mempresentasikan hasil penelitiannya juga dalam seminar ke khalayak umum misal. Apalagi dalam pekerjaan bidang keguruan, dimana selain harus pintar berpresentasi juga harus sabar dan sepenuh hati. Serta dalam bidang lainnya, jelas bahwa kemampuan Presentasi itu perlu bahkan wajib.
Sayangnya, masih banyak siswa atau setidaknya dalam lingkungan saya yang masih belum memiliki kemampuan cukup dalam berpresentasi. Bahkan dalam banyak presentasi siswa yang tentu biasanya menggunakan Power Point, siswa yang mempresentasikan itu tak berbeda dengan membaca isi presentasi itu saja kalau tak mau dibilang betul-betul hanya membaca isi presentasi itu. Sehingga dalam banyak presentasi itu saya lebih memilih tidak memedulikan omongan yang presentasi asal baca itu melainkan hanya membaca isi Power Point itu. Selain malas mendengarkan omongan yang standar Power Point, saya juga seringkali tidak bisa mendengarkan dalam baik omongan mereka yang terdengar sangat pelan.
Saya masih ingat waktu saya kelas 1 SMA dulu guru Bahasa Inggris saya pernah terang-terangan menyindir teman saya yang berpresentasi asal baca itu dengan menyuruh seorang teman yang tidak berpresentasi untuk melanjutkan bacaannya, seperti membaca suatu artikel di buku yang panjang dimana membacanya bergantian. Memang, dalam berpresentasi asal baca itu juga memiliki isi yang sangat panjang seperti artikel saja yang membuat si orang yang berpresentasi itu nampak tidak memiliki pengetahuan tentang apa yang dipresentasi itu selain bacaan dalam Power Point itu.
Jika dalam presentasi berkelompok, bisa jadi penyebab presentasi-presentasi membosankan itu juga karena hanya salah satu orang didalam kelompok itu yang membuat presentasi itu. Terlebih parah lagi anggota yang lainnya tidak menguasai tema dan tidak kompak karena kurangnya komunikasi sehingga pada saat presentasinya juga mereka terlihat bingung dan tidak terorganisir pergerakannya, mana bisa membuat presentasi yang menarik.
Komentar : 16 Komentar »
Kaitkata: presentasi, sekolah, siswa
Kategori : Kritik, Penjelasan
Musik Klasik
14 03 2010Apakah anda menyukai musik klasik?

Catatan : Sebelumnya, saya ingin menerangkan bahwasanya musik klasik dalam bahasan saya ini saya batasi pada era abad ke-18 (tepatnya 1740-1830) dan musik di Eropa. Tidak termasuk musik Barok, Romantik, atau sebelum-sebelumnya serta musik diluar Eropa.
Komentar : 31 Komentar »
Kaitkata: i don't like monday, musik klasik, sejarah singkat
Kategori : Ladang Berpikir
Natal
25 12 2009Dulu, ketika saya masih sekitar kelas 6 SD. Saya banyak membaca berbagai majalah Islam karena pada saat itu cukup terinspirasi dari om saya untuk mempelajari Islam lebih dalam. Dan ketika saya membaca majalah-majalah itu saya membaca berbagai tulisan baik itu artikel atau konsultasi tanya jawab. Dan beberapa artikel yang saya baca mengenai Natal di majalah-majalah itu merujuk pada satu hal, mereka tidak setuju bahkan mengharamkannya dikarenakan dianggap menyetujui bahwa Tuhan punya anak walaupun hanya mengucapkan selamat Natal.
Dan saya yang waktu itu masih kecil pun spontan terpengaruh oleh itu, dan saya yang menjelang Natal biasanya mengucapkan selamat ke Oma saya dari ayah yang beragama Protestan, saudara-saudara dan teman-teman yang Kristiani lainnya. Tiba-tiba menolak bahkan mengungkapkan bahwa saya tidak mau dan tidak akan mengucapkannya. Hal inipun mendapatkan pertanyaan dari ayah saya yang heran dengan sikap saya yang terkesan aneh. Beliau berkata, tidak ada masalah sebenarnya mengucapkan begitu saja. Tergantung niat katanya bukan?
Beberapa tahun setelah itu hingga saya kelas 2 SMA sekarang ini, serta setelah bergaul dan berdiskusi dengan lebih banyak orang dari berbagai latar belakang dan pemahaman serta membaca banyak bacaan seperti artikel, buku, dan sebagainya saya kembali berpikir, adakah yang salah dengan perayaan Natal itu sendiri? Apakah Natal itu tidak bermanfaat atau bahkan bermudharat? Mengapa tidak disukai bahkan hingga harus disambut dengan bom dan kerusuhan menjelang Natal?
Jika melihat dari prakteknya, sebenarnya tidak terlalu berbeda jauh dari perayaan Lebaran. Dalam esensi kekeluargaan dan kebersamaan misalnya, pada hari Natal orang-orang berkumpul bersama sanak keluarga , beribadah bersama, menyantap jamuan bersama, lalu mengunjungi sanak saudara dan kerabat , mereka menikmati kebersamaan dengan caranya yang berbeda dengan Lebaran tapi pada intinya adalah kebersamaan. Selain itu momen Natal juga sama-sama dimanfaatkan banyak orang untuk berbuat baik kepada sesama, ada yang mengisinya dengan memberikan sumbangan atau bahkan kerja sosial ke panti asuhan, panti jompo, atau ke pemukiman orang miskin.
Saya merasa momen-momen itu juga “religius” khususnya bagi yang merayakan mungkin, dan saya merasa perayaan seperti tadi baik kegiatan atau bahkan lagu-lagunya dapat menenangkan jiwa dan memberikan inspirasi baru. Tidak jauh berbeda dengan ketenangan dan perasaan bahagia yang dialami oleh mereka yang merayakan Lebaran bukan?
Maka dari itu, saya merasa secara praktek tidak ada yang salah dan seharusnya tidak disambut dengan kerusuhan dan bom. Terlepas dari berbagai hal, marilah kita menghormati mereka yang merayakannya dalam damai. Dan dengan ini saya mengucapkan, selamat Natal 2009 bagi yang merayakan dan Tahun Baru 2010! Semoga hari-hari kita selanjutnya semakin bisa diisi dengan kedamaian dan kerukunan.
Komentar : 15 Komentar »
Kategori : Ladang Berpikir
Selamat Datang
17 12 2009Saya menyambut anda ke dunia ini dengan lebih dari sekedar ucapan selamat datang, melainkan juga perasaan campur aduk aneh agak khawatir dan sebagainya. Ya, setelah sekian lamanya sejak kemunculan yang terakhir akhirnya anda muncul kesini. Mengagetkan memang dan cukup diluar dugaan mengingat kami sudah cukup uzur sebenarnya untuk menampung satu lagi. Tapi sudahlah, kami persiapkan sebisa mungkin.
Saya cuma mau bilang, anda datang di momen yang sangat tidak menyenangkan menurut saya. Dunia sudah kacau, manusia sudah gila serta rusak moralnya, alam diluar dugaan, dan entahlah. Bukankah konon katanya semakin tahun semakin buruk keadaannya? Semakin lama tanda akhir zaman semakin terlihat dan spekulasi tentang akhir zaman semakin banyak dan bermacam-macam.
Mungkin masa-masa awal keberadaan anda akan dimanjakan dengan berbagai teknologi canggih yang ada, serta berbagai fasilitas kemudahan lainnya. Selain itu gizi anda akan terasup dengan baik karena pangan dan air yang layak begitu mudah didapatkan. Lalu perkembangan anda beberapa tahun selanjutnya anda masih akan mendapatkan kemudahan dengan hidup yang semakin canggih.
Namun semakin besar dan tercerahkannya anda, anda harus menghadapi berbagai problema seperti perubahan lingkungan dimana bumi semakin memanas. Perubahan kehidupan sosial dimana hidup anda akan menjadi luas tapi sempit akibat perkembangan teknologi yang menggila. Moral semakin parah dan saya tidak tahu bagaimana akal bulus manusia di masa anda kelak. Sayapun tidak tahu bagaimana nasib negara karena hingga saat ini perkembangan negara memperihatinkan dimana pemerintahnya dan rakyatnya sama-sama tidak berhati. Sedangkan nasib dunia secara keseluruhan juga membingungkan, mungkin masa anda nanti akan ada perubahan basis?
Intinya, selamat datang di dunia gila ini. Terimalah keadaan dunia ini dan hiduplah bersamanya.
Komentar : 6 Komentar »
Kategori : Diary, Ladang Berpikir

Fresh Comments