Dulu, ketika saya masih sekitar kelas 6 SD. Saya banyak membaca berbagai majalah Islam karena pada saat itu cukup terinspirasi dari om saya untuk mempelajari Islam lebih dalam. Dan ketika saya membaca majalah-majalah itu saya membaca berbagai tulisan baik itu artikel atau konsultasi tanya jawab. Dan beberapa artikel yang saya baca mengenai Natal di majalah-majalah itu merujuk pada satu hal, mereka tidak setuju bahkan mengharamkannya dikarenakan dianggap menyetujui bahwa Tuhan punya anak walaupun hanya mengucapkan selamat Natal.
Dan saya yang waktu itu masih kecil pun spontan terpengaruh oleh itu, dan saya yang menjelang Natal biasanya mengucapkan selamat ke Oma saya dari ayah yang beragama Protestan, saudara-saudara dan teman-teman yang Kristiani lainnya. Tiba-tiba menolak bahkan mengungkapkan bahwa saya tidak mau dan tidak akan mengucapkannya. Hal inipun mendapatkan pertanyaan dari ayah saya yang heran dengan sikap saya yang terkesan aneh. Beliau berkata, tidak ada masalah sebenarnya mengucapkan begitu saja. Tergantung niat katanya bukan?
Beberapa tahun setelah itu hingga saya kelas 2 SMA sekarang ini, serta setelah bergaul dan berdiskusi dengan lebih banyak orang dari berbagai latar belakang dan pemahaman serta membaca banyak bacaan seperti artikel, buku, dan sebagainya saya kembali berpikir, adakah yang salah dengan perayaan Natal itu sendiri? Apakah Natal itu tidak bermanfaat atau bahkan bermudharat? Mengapa tidak disukai bahkan hingga harus disambut dengan bom dan kerusuhan menjelang Natal?
Jika melihat dari prakteknya, sebenarnya tidak terlalu berbeda jauh dari perayaan Lebaran. Dalam esensi kekeluargaan dan kebersamaan misalnya, pada hari Natal orang-orang berkumpul bersama sanak keluarga , beribadah bersama, menyantap jamuan bersama, lalu mengunjungi sanak saudara dan kerabat , mereka menikmati kebersamaan dengan caranya yang berbeda dengan Lebaran tapi pada intinya adalah kebersamaan. Selain itu momen Natal juga sama-sama dimanfaatkan banyak orang untuk berbuat baik kepada sesama, ada yang mengisinya dengan memberikan sumbangan atau bahkan kerja sosial ke panti asuhan, panti jompo, atau ke pemukiman orang miskin.
Saya merasa momen-momen itu juga “religius” khususnya bagi yang merayakan mungkin, dan saya merasa perayaan seperti tadi baik kegiatan atau bahkan lagu-lagunya dapat menenangkan jiwa dan memberikan inspirasi baru. Tidak jauh berbeda dengan ketenangan dan perasaan bahagia yang dialami oleh mereka yang merayakan Lebaran bukan?
Maka dari itu, saya merasa secara praktek tidak ada yang salah dan seharusnya tidak disambut dengan kerusuhan dan bom. Terlepas dari berbagai hal, marilah kita menghormati mereka yang merayakannya dalam damai. Dan dengan ini saya mengucapkan, selamat Natal 2009 bagi yang merayakan dan Tahun Baru 2010! Semoga hari-hari kita selanjutnya semakin bisa diisi dengan kedamaian dan kerukunan.
DIarsipkan di bawah: Ladang Berpikir | 11 Komentar »








