Idealisme Pekerjaan

3 04 2010

(Entah bagaimana judulnya, terserah andalah)

Setiap orang wajar untuk selalu ingin hidup lebih baik dan lebih berkembang, maka dari itu banyak orang berharap untuk mendapatkan pekerjaan lebih baik dengan berpenghasilan lebih dan prospeknya terjamin. Untuk mendapatkan pekerjaan seperti itu tentu saja diperlukan latar pendidikan yang baik dan beberapa bahkan membutuhkan sejumlah pengalaman untuk itu.

Ya, seperti itulah tipikal keinginan seseorang. Dimana seseorang ada kesempatan bekerja di tempat, atau di posisi dengan prospek dan penghasilan yang lebih baik mereka akan pindah kesana berharap hidupnya lebih berkembang dan memiliki berbagai pengalaman baru untuk hidupnya kemudian nanti.

Maka dari itu banyak orang yang dianggap cerdas menginginkan dan atau diinginkan untuk masuk kedalam bidang yang dianggap menjanjikan seperti Kedokteran, Ekonomi, Psikologi, Teknik, Hubungan Internasional, atau jurusan-jurusan yang dianggap memiliki prospek kerja yang lumayan dan akibatnya persaingan masuk kesana jadi ketat karena itu.

Begitulah jadinya, keinginan untuk menjadi lebih baik memang stereotipe manusia. Tapi bagaimana jika ada orang-orang yang tidak tertarik untuk hal seperti ini?

Semisal dulu saya diceritakan oleh guru saya, beberapa tahun lalu di sekolah saya ada seorang siswi di sekolah saya yang sewaktu kelas satu dan duanya mendapatkan peringkat satu seangkatannya. Tapi, dia saat kenaikan ke kelas tiga (saat itu penjurusan terjadi di kelas tiga) lebih memilih ke IPS yang padahal katanya dia jauh lebih pantas masuk IPA yang dianggap lebih berkelas dan berisikan anak-anak cerdas. Dan saat dia kuliah pun dia bahkan memilih untuk masuk Jurusan Sastra Cina yang notabene kurang difavoritkan di Jurusan IPS dibandingkan Ekonomi, Akuntansi, Manajemen, Hukum, ataupun favorit yang lainnya. Tapi demikianlah, rupanya itu memang benar-benar keinginannya murni sesuai idealismenya.

Jika semua orang-orang cerdas dan berbakat ingin masuk ke jurusan atau pekerjaan favorit saja lalu akibatnya jurusan atau pekerjaan yang tidak difavoritkan itu bagaimana nantinya tanpa orang-orang cerdas dan berbakat itu? Semisal jika semua orang cerdas dan berdedikasi ingin menjadi bos atau orang-orang dengan pekerjaan “tinggi” lainnya, bagaimana dengan bawahan2 bosnya atau orang-orang yang tidak berpekerjaan “rendah”? Tentu saja perlu orang-orang cerdas dan berdedikasi untuk pekerjaan-pekerjaan itu.

Intinya, tidak ada yang salah jika ada orang yang dinilai cerdas dan berpotensi tapi lebih memilih pekerjaan yang dirasa kurang “tinggi”. Semua hanya tergantung keinginan dan potensinya sendiri.

Sekianlah, dan jika anda kurang mengerti mohon maaf.

Iklan

Aksi

Information

29 responses

3 04 2010
Annasophia

Ya, udah jadi babu sana.

3 04 2010
Adriano Minami

Kan saya gak minat jadi babu

3 04 2010
Ecy

Presiden juga babu, kan? Babu rakyat? Mengurusi urusan rumah tangga dan tetekbengeknya rakyat?

4 04 2010
Xaliber von Reginhild

Err, tidak setuju. Presiden bukan “babu” rakyat, tapi “babu” negara–kalau mau dikatakan “babu”, walaupun saya kurang setuju demikian.

Menurut saya presiden tidak bertanggung jawab pada rakyat, tapi pada negara. Rakyat cuma pemilih yang mengajukan suara agar presiden bisa naik tahta, tapi bukan serta-merta dia jadi melayani apa yang dimau rakyat, apalagi kalau yang diinginkan rakyat bertentangan dengan kepentingan nasional. Mengayomi masih oke, melayani belum tentu.

7 04 2010
Nikias

Argumen Anda itu cocok untuk presiden otoriter di negara semacam fasis atau komunis. 😀

7 04 2010
Xaliber von Reginhild

Sejak kapan gw nggak? :mrgreen: *lah*
Terpengaruh soal teori mandat & independen nih.

18 04 2010
Nikias

Ya, gw bisa merasakannya kok kalo lu terpengaruh si sangadji. :))

Tapi, ya nggak seekstrim itulah.
Kalo bicara demokrasi, presiden tetap bertanggungjawab kepada rakyat, meskipun melalui wakil-wakil “rakyat” di DPR.
Ini kelemahan demokrasi modern. Tidak ada mekanisme yang jelas untuk meminta pertanggungjawaban.

Konsep demokrasi tidak langsung (indirect democracy) memang mengurangi esensi dari demokrasi itu sendiri. Makanya orang-orang seperti Juergen Habermas menawarkan demokrasi deliberatif suapa jelas mekanisme pertanggungjawaban si pemimpin.

*jangan diperpanjang, makin oot* 😀

4 04 2010
Xaliber von Reginhild

*on topic*

Saya rasa ini ada kaitannya juga antara sentimen jurusan “Hubungan Internasional” dan jurusan “Ilmu Politik”. Kenapa orang-orang cenderung melirik HI dan menganggap Ilmu Politik itu seperti politik yang (katanya) “kotor”?

HI itu sendiri sebenarnya cabangnya juga dari Ilmu Politik. Sebelumnya kalau tidak salah ada empat cabang Ilmu Politik: Politik Indonesia, Politik Perbandingan, Hubungan Interasional, dan Pemikiran Politik. Sekarang cabangnya tinggal dua, Politik Indo dan Perbandingan. Pemikiran Politik ditutup karena kurang laku, HI dipecah jadi jurusan sendiri karena entah kenapa populer.

Yaa, tidak apa-apa sih kalau mengambil HI karena memang minatnya “hubungan” antar-negara. Tapi kadang-kadang ada yang mengambil HI karena alasan “bisa ke luar negeri” atau “bicara politik internasional”. Lha ini kurang tepat. Alasan pertama dan kedua itu juga bisa dicapai Ilmu Politik: ambil politik perbandingan. Mau ke Turki juga bisa. Walaupun memang fokus pembicaraan Ilmu Politik dengan HI itu berbeda. Politik itu cakupannya politik domestik suatu negara, jadi kalaupun diperbandingkan maka yang diperbandingkan adalah politik domestik negara-negara. Sedangkan HI itu cakupanya hubungan antar negara.

Ini bukannya mentang-mentang saya di Ilmu Politik terus jadi bawel karena cemburu atau apa, walaupun mungkin bisa jadi ada pengaruh seperti itu. 🙂 Cuma sekedar informasi, karena yang memilih HI dengan alasan seperti di atas atau sekedar gengsi pun banyak. Daripada ikut-ikutan latah, mending coba ditelusuri dulu apa itu HI dan apa itu Ilmu Politik. 😉

5 04 2010
Annasophia

Saya pilih filsafat supaya bisa jadi artis.

6 04 2010
Adriano Minami

Filsafat itu masuk kategori Seni juga kan?

7 04 2010
Xaliber von Reginhild

Nggembel kalee.

(ninja)

10 04 2010
Annasophia

Situ berani menyamakan filsafat sama seni? [-(

6 04 2010
Adriano Minami

Sayangnya anak-anak di kelas saya udah keburu keracunan duluan ama semangat untuk jadi Diplomat karena bisa keluar negeri lalu punya hak istimewa disana gara-gara materi KN Hubungan Internasional menurut saya.

Padahal saya juga sependapat dengan anda mengenai itu dan saya juga sudah bilang bahwa HI itu juga bagian dari Ilmu Politik dan kalau mereka berkata Politik itu “kotor” maka bagiannya itu juga mungkin “kotor” kan? :p

Saya sih lebih memilih masuk Ilmu Politik karena bisa lebih menyeluruh, materi Politik Internasional ada juga kan disana?

7 04 2010
Xaliber von Reginhild

Ha. Miskonsepsi yang umum itu. Politik = kotor. 😆 Hei, hei, ini “Ilmu” Politik, bukan Politik! :mrgreen:

Lalu apa kata mereka?

Saya sih lebih memilih masuk Ilmu Politik karena bisa lebih menyeluruh, materi Politik Internasional ada juga kan disana?

Sebenernya bukan begitu juga sih. 😕

Seperti yang ane bilang, ilmu politik itu memelajari politik domestik suatu/beberapa negara. Kalau HI, hubungan antar-negaranya. Contoh: masalah Israel-Palestina. Kalo Politik, bisa jadi dia memelajari kebijakan-kebijakan publik Israel (misalnya politik etnis), atau membandingkan kebijakan radikal Israel dengan kebijakan radikal Palestina. Atau barangkali relasi antara masyarakat sipil dengan HAMAS. Cakupannya domestik. Kalau HI, hubungan antar-keduanya. Bisa jadi militernya, kebijakan luar negerinya, dan sebagainya.

7 04 2010
Nikias

Persepsi yang salah tuh.
Kementerian Luar Negeri itu juga banyak diisi oleh lulusan ilmu Politik.

Bahkan, cita-cita saya pengen kedubes lewat Ilmu Politik. 😀

7 04 2010
Adriano Minami

@Xaliber Von Reginhild

Ya begitu, mereka malas belajar Politik katanya karena bosan ama berita tapi malah mau masuk HI. Aneh kan?

Paham2, jika Ilmu Politik belajar perbandingan kebijakannya atau relasi nasionalnya lalu Hubungan Internasional itu belajar hubungan dari itu?

@Nikias

Ilmu Politik kan lebih menyeluruh jadi gak salah masuk jalur Politik Luar Negeri lewat situ 😀

4 04 2010
Xaliber von Reginhild

Semisal jika semua orang cerdas dan berdedikasi ingin menjadi bos atau orang-orang dengan pekerjaan “tinggi” lainnya, bagaimana dengan bawahan2 bosnya atau orang-orang yang tidak berpekerjaan “rendah”?

Err, seleksi alam? 😕 Ideal tidak selalu berbanding lurus dengan realita, kan.

6 04 2010
Adriano Minami

Menyampingkan permasalahan itu, bagaimana jika dia punya kesempatan untuk itu tapi mengabaikannya?

7 04 2010
Xaliber von Reginhild

Ya diambil sama orang lain. Seleksi alam?

4 04 2010
Ecy

Yaampun panjang banget balesnya. *males bacanya* :p

4 04 2010
Xaliber von Reginhild

Lah masa? ^^; Biasanya ada yang lebih panjang Ini termasuk pendek kok 🙂

4 04 2010
Ecy

kabur aja deh :p

22 04 2010
devsda1

Kalo orang yg emang minat sih biasanya biar kerjaan yg diincer yg nggak top2 amet sih tetep jalan. Biasanya sih yg milih jurusan/kerjaan yg favorit itu yg gak tau mau milih jurusan apa & milih di detik2 terakhir.

Kalo kasus temen2 gw sih banyakan yg ngambil manajemen/DKV/psikologi/TI. Bukan gara2 pengen sih, tapi gara2 udah kepepet & gak tau mau ngambil jurusan apa. Ada juga yg lumayan jago main musik mau ngambil jurusan musik tapi gara2 gak dikasih sama bapaknya jadinya ke psikologi. Ada yg mau ke hukum tapi jadinya TI juga gara2 disuruh.

Kalo minatnya ke jurusan yg nggak terlalu populer juga kayaknya susah kalo orang tuanya maksa. Tergantung dari orang tua juga.

4 05 2010
Xaliber

Bukan gara2 pengen sih, tapi gara2 udah kepepet & gak tau mau ngambil jurusan apa. Ada juga yg lumayan jago main musik mau ngambil jurusan musik tapi gara2 gak dikasih sama bapaknya jadinya ke psikologi.

Kurang tahu dengan univ-univ lain, tapi kalau di negeri kan biasanya difasilitasi. Di UI, misalnya, ada UKM Orkestra. Dan ada Komunitas Seni FISIP juga. Jadi mestinya bukan masalah mau ngambil jurusannya apa, tergantung universitasnya juga sih. 🙂

4 05 2010
devsda1

Setau gw sih temen2 gw nggak ada yg difasilitasi gitu, kebanyakan sih gara2 pas udah kepepet masih ga tau mau ngambil jurusan apa, jadi ikut2an temen atau milih yg lagi tren aja.

4 05 2010
Rachmadhina Insan Widyapianissa

Saya sih kepengen DKV di tengah gempuran teman-teman yg udah pada ancang2 pengen Kedokteran atau Teknik.

Untungnya belum ada yang tanya, ‘Mau dibawa ke mana IPAnya?’

4 05 2010
Bingung Milih Jurusan? Jangan Panik, Baca Ini! « I/O

[…] 1: jangan sembarangan milih, Nak! Btw, gw mendadak jadi kepengen nulis tentang ini habis baca post ini. Nah, kembali ke topik: JANGAN SEMBARANGAN! Sebenernya sih mau sembarangan juga kagak kenapa-kenapa […]

1 07 2010
kirun A.dp

HALAH…..
percuma kuliah..!!
perguruan tinggi kita cuma bisa menciptakan generasi PENCARI kerja, bukan PENCIPTA lapangan kerja… 😀

17 07 2010
Lake_Filter

Jurusan SMA gak menentukan Fakultas yang akan kita pilih, sebagaimana Fakultas terhadap pekerjaan yang kita dapatkan… Itu semua hanyalah semacam ‘alat bantu’ untuk mencapai impian kita…

Di kantor gw dulu aja ada banyak orang yang kerja bukan pada ‘tempatnya’… Bahkan, salah satu orang yang deket ama gw itu lulusan IPB jurusan Agribisnis yang dapet posisi Manajer Marketing & IT kok…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: