Musik Klasik

14 03 2010

Apakah anda menyukai musik klasik?

Musik Klasik

Catatan : Sebelumnya, saya ingin menerangkan bahwasanya musik klasik dalam bahasan saya ini saya batasi pada era abad ke-18 (tepatnya 1740-1830) dan musik di Eropa. Tidak termasuk musik Barok, Romantik, atau sebelum-sebelumnya serta musik diluar Eropa.

Musik Klasik menurut beberapa pendapat dianggap sebagai masa keemasan dalam musik, musik abad 18 ini jika dibandingkan dari musik-musik jaman sebelumnya sudah memiliki tatanan yang rapi dengan irama yang lebih teratur.

Sejak jaman dahulu, musik ini disukai banyak orang khususnya kalangan menengah keatas karena musiknya dianggap elegan dan berkelas. Dan memang ditujukan kepada mereka yang menengah keatas dan terpelajar dikarenakan pada jaman dahulu memang musikusnya membuat musik itu hanya untuk konsumsi pribadi atau sesama Bangsawan saja. Baru pada akhir abad ke-18 konser untuk umum baru mulai ada.

Musik ini juga seringkali diasosiasikan dengan “musik cerdas”, musiknya kaum Intelektual. Bisa dilihat dari mayoritas pendengar musik klasik adalah orang-orang terpelajar. Bahkan dipercaya juga mendengarkan musik ini dapat meningkatkan kecerdasan, sehingga banyak ibu hamil yang mendengarkan musik ini berharap kecerdasan janinnya bisa meningkat.

Musik ini bisa juga diasosiasikan dengan “musik tenang”, musik yang cocok untuk rileks atau makan malam. Banyak orang mendengarkan musik Klasik menjelang waktu tidur mereka.

Namun bagi saya musik ini memiliki makna yang berbeda. Saya memiliki kebiasaan mendengarkan radio sebelum tidur, dan pada hari Minggu malam biasanya radio favorit saya memutarkan Musik Klasik. Sehingga saya mendengarkannya sebelum tidur. Tidak ada masalah sebenarnya, hanya saja pikiran yang biasanya berkemelut dalam diri saya pada Minggu malam menjelang tidur itu adalah besok hari Senin dan kembali ke aktivitas sehari-hari. Sayapun seperti banyak orang, seringkali merasa agak tegang menghadapi hari Senin setelah libur berakhir pekan. Sehingga secara tidak langsung, pikiran saya menjadi mengasosiasikan bahwa jika radio favorit saya itu menyetel Musik Klasik maka besok saya harus kembali beraktivitas. Itulah sebabnya saya seringkali merasa aneh mendengarkan musik ini.

Sebelumnya, maaf jika tulisan saya ujung-ujungnya malah curhat sendiri atau orang kebanyakan menyebutnya “curcol”.

Iklan

Aksi

Information

31 responses

14 03 2010
Ecy

jadikan musik kelasik itu endorfin bagimu nak. setidaknya, penenang sebelum chaos-isme hari senin datang πŸ˜€

14 03 2010
Adriano Minami

Entah kenapa tapi pikiran saya mencernanya sebagai sesuatu yang kurang mengenakkan

14 03 2010
Xaliber von Reginhild

Musik Klasik menurut beberapa pendapat dianggap sebagai masa keemasan dalam musik, musik abad 18 ini jika dibandingkan dari musik-musik jaman sebelumnya sudah memiliki tatanan yang rapi dengan irama yang lebih teratur.

Masa sih? Bukannya yang lebih populer itu justru Barok? πŸ˜• Atau setidaknya seimbang, lah, Barok sama Klasik.

Bach, Handel, Vivaldi itu kan dari Barok semua. Yang dari Klasik itu yang populer paling cuma Mozart sama Beethoven.

14 03 2010
Adriano Minami

Saya juga kurang yakin sih, tapi begitulah yang diajarkan guru saya. Lagipula orang lebih kenal Mozart daripada Bach rata2.

Piano jaman Barok kan udah gak lazim sekarang.

14 03 2010
Xaliber von Reginhild

Masa sih?

Dari nama, mungkin iya. Tapi dari lagu? πŸ˜• Toccata & Fugue in D Minor, Canon in D, Four Seasons, Ride of the Valkyries, itu kan nggak ada yang dari Era Klasik semua. πŸ˜• Sila YouTubeing buat mendengarkan.

Piano jaman Barok kan udah gak lazim sekarang.

Lho, siapa yang ngomongin piano? πŸ˜› Lagu Barok cuma terbatas di pianonya aja ya? :O

14 03 2010
namin

hmm, setidaknya musik klasik lebih berisi daripada lagu-lagu yang disetel di angkot =))

14 03 2010
Adriano Minami

Gimana kalo tiba2 angkotnya nyetel Musik Klasik? =))

14 03 2010
Xaliber von Reginhild

Btw, ini yang konsisten, dong? πŸ˜•

saya ingin menerangkan bahwasanya musik klasik dalam bahasan saya ini saya batasi pada era abad ke-18 (tepatnya 1740-1830) dan musik di Eropa.

Statement awalnya begitu. Tapi,

Musik ini bisa juga diasosiasikan dengan β€œmusik tenang”, musik yang cocok untuk rileks atau makan malam. Banyak orang mendengarkan musik Klasik menjelang waktu tidur mereka.

Kalo definisinya “musik Klasik” itu cuma “musik pada zaman Klasik”, terus gimana sama Four Seasons-nya Vivaldi atau Canon in D-nya Pachelbel? πŸ˜• Itu kan Barok. Swan Lake-nya Tchaikovsky? Itu kan Romantik. Kalo cuma era Klasik aja, kenapa Pachelbel dan Tchaikovsky dijadiin musik pengantar tidur atau musik rileks?

14 03 2010
Adriano Minami

Eeeehh…. Saya kan tidak bilang “hanya musik klasik”, saya hanya maksud sebagai salah satu “musik tenang”. Saya hanya membicarakan musik-musik Klasik yang dianggap musik tenang.

14 03 2010
Xaliber von Reginhild

Lha piye?

Gini, lho. Kan tadi katanya gini,

“musik klasik dalam bahasan saya ini saya batasi pada era abad ke-18 (tepatnya 1740-1830)

. Berarti, musik klasik yang dibikin di luar tahun 1740-1830 (Barok, Renaissance, Romantik, dsb) tidak termasuk dalam pembahasan ini, kan? πŸ˜•

Nah, itu premis satu.

Di paragraf berikutnya, disebutkan,

Musik ini bisa juga diasosiasikan dengan β€œmusik tenang”, musik yang cocok untuk rileks atau makan malam. Banyak orang mendengarkan musik Klasik menjelang waktu tidur mereka.

Perhatikan yang dicetak tebal. Musik ini, berarti musik klasik, kan? Saya simpulkan begitu soalnya paragraf2 sebelumnya mengatakan demikian.

Nah, itu premis dua.

Berarti, musik yang dianggap tenang, buat rileks, buat didengarkan ibu hamil, dsb-nya itu cuma terbatas pada “musik pada tahun 1740-1830”, kan? πŸ˜• Situ sendiri kan yang membuat batasan itu?

14 03 2010
Adriano Minami

Saya batasi hanya untuk menerangkan bahwasanya saya berbicara Klasik masa Mozart, bukan untuk membatasi benar-benar hanya ada pada zamannya

14 03 2010
Xaliber von Reginhild

Lha iya, kalo cuma “Klasik masa Mozart”, berarti yang lain (masanya Vivaldi, Tchaikovsky, dll) “bukan musik Klasik”, kan? πŸ˜• (sesuai definisi Adrian)

Terus kenapa yang lain, yang “bukan musik Klasik”, malah juga dijadiin lagu pengantar tidur, lagu rileks, dan sebagainya itu? πŸ˜• Itu kan “bukan musik Klasik”?

14 03 2010
Xaliber von Reginhild

Dan memang ditujukan kepada mereka yang menengah keatas dan terpelajar dikarenakan pada jaman dahulu memang musikusnya membuat musik itu hanya untuk konsumsi pribadi atau sesama Bangsawan saja.

Masa sih?

Pas zaman Renaissance itu populer musisi-musisi jalanan yang membawakan lagu-lagu yang sekarang kita kenal dengan lagu klasik (bukan Era Klasik). Terus itu gimana dong, apa yang mendengarkan itu bukan orang? πŸ˜•

Bah, gagal hettrik. πŸ‘Ώ Udahan ah. πŸ˜†
*lesbiola*

14 03 2010
Adriano Minami

Sekali lagi, lihat batasan saya. Pada zaman Mozart setidaknya, itu kan hanya konsumsi kalangan Bangsawan. Musikusnya bekerja sebagai musikus pribadi Bangsawan.

14 03 2010
Xaliber von Reginhild

Betul memang. Dari Renaissance, bahkan, musik seperti ini memang dekat dengan kalangan bangsawan, pemuka agama, dan bahkan Paus. Wajar, soalnya memang awal sejarah musik ini diawali dari musik-musik relijius.

Tapi, dekat belum tentu berarti hanya untuk. Bekerja untuk belum tentu berarti hanya boleh didengarkan oleh. Yang dimainkan musisi jalanan itu apa bukan musik? πŸ˜•

14 03 2010
Adriano Minami

Saya tidak bilang demikian, hanya saja karena tidak adanya kesempatan untuk memberikan konsumsi ke rakyat jelata makanya seolah2 hanya untuk kalangan atas

14 03 2010
Xaliber von Reginhild

pada jaman dahulu memang musikusnya membuat musik itu hanya untuk konsumsi pribadi atau sesama Bangsawan saja

Lha ini apa?

14 03 2010
Annasophia

Jadi musik klasik itu lebih banyak manfaatnya apa mudharatnya?

PAANZI!!!

14 03 2010
Xaliber von Reginhild

PAANZI!!!

14 03 2010
namine

‘Gimana kalo tiba2 angkotnya nyetel Musik Klasik? =))’

hmm, angkot bakal jadi kendaraan umum yg elit? =))

14 03 2010
Annasophia

*melirik baris pertama*
Saya enggak suka. *langsung berniat pergi*

Tapi kemudian saya ingat kalau saya ini baik hati dan rajin menabung lagi murah senyum πŸ™‚

Eh, jadi ini intinya apa ya?

17 03 2010
Xaliber von Reginhild

Jiah, orangnya mana nih? πŸ˜†

Kabur dia. (ninja)

21 03 2010
gitablu

musik klasik membantu saya menemukan ide.

klo sebelum bobo dengerin musik klasik, saya malah ga bisa bobo, krn kepala saya malah berkemelut ide2. Aneh ya?

22 03 2010
velc

saia tak terlalu tahu musik klasik..
beberapa saia mengetahui dari manga piano no mori, disitu yang disebut berulang kali dan dianggap sangat baik itu mozart. tapi saia memang tidak pernah mendengarkanya langsung. tapi saia lihat dari bagaimana mangaka dari piano no mori untuk menyampaikanya, mozart hebat sekali hingga beberapa karya nya tidak bisa dimainkan secara baik oleh sembarang orang.

22 03 2010
Adriano Minami

@gitablu :

Musik klasik memang dipercaya dapat merangsang otak untuk menciptakan pikiran2 atau ide baru, mengenai harus tidur sambil mendengarkan musik klasik memang ada beberapa orang yang demikian πŸ˜›

@velv

Kemampuan Mozart itu memang tidak biasa, jadinya orang biasa tidak bisa menirunya πŸ˜›

27 03 2010
jensen99

Wah, diskusinya jadi rumit. Ngeri liat Adip ngasi ceramah musik. Padahal ini masalahnya sederhana saja: Musik klasik, yang seharusnya menenangkan, ternyata malah membawa efek tegang buat Adrian, karena selalu mengingatkan bahwa besok hari Senin, soalnya selalu didengarkan pas Minggu malam. πŸ˜†
Pemecahannya sederhana saja; putar channel radio lain menjelang tidur Minggu malam! πŸ˜›

27 03 2010
Adriano Minami

Memang permasalahannya sih semudah itu, tapi namanya juga blog dan sangat berpotensi menimbulkan pembicaraan tingkat lanjut :)) . Terlebih si Adip itu kan cukup paham dunia musik :))

Seharusnya sih begitu, hanya saja channel radio lain tidak lebih baik atau malah bisa lebih mengacaukan saya πŸ˜€

29 03 2010
Xaliber von Reginhild

Ahahah, itu iseng aja kok, mas jensen πŸ˜› *ditimpuk*

29 03 2010
Xaliber von Reginhild

Adrian kurang seru nih, kurang ditanggapi debatnya [-(

3 04 2010
Adriano Minami

Mau ditanggepin apa lagi?

3 04 2010
Annasophia

pake ini, Yan:

PAANZI!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: