Penunggang Kardus

3 11 2009

Mereka datang bersama kardus-kardus mereka yang berasal dari tumpukan sampah, menuju ke jalan raya untuk mengais rejeki dengan mengisi kardus-kardus mereka dengan sembarang hanya untuk kepentingan pribadi tanpa memperhatikan hukum yang ada.

Mereka datang bersama kardus-kardus mereka untuk mengacaukan jalan raya, menganggu dan memangkas rejeki orang-orang hanya untuk keuntungan pribadi mereka yang sebenarnya tidak ada nilainya jika dibandingkan dengan apa yang mereka perbuat. Merugikan waktu, tenaga, harta, dan hal lainnya yang tentunya tidak ada artinya dari beberapa ribu rupiah yang didapat dari gangguan yang mereka lakukan.

Mereka datang bersama kardus-kardus mereka tanpa hati, mereka enggan bekerja jika kardus-kardus mereka belum terisi penuh sekali. Sudah penuhpun mereka masih tidak bisa bekerja dengan benar, sepertinya tidak puas jika belum menyusahkan pengguna jasa kardus-kardus itu ataupun pengguna jalan lainnya. Terkadang bisa berbahaya tatkala sudah merasa seperti raja, menganggap yang lainnya adalah rakyat jelata yang bisa dikorbankan demi kepentingan mereka saja.

Merekalah penunggang-penunggang kardus dengan pelayanan tanpa hati, berkedok sebagai pelayan kepentingan umum yang akhirnya malah merusak kepentingan umum lainnya.

Iklan

Aksi

Information

11 responses

3 11 2009
lemonsile

…Mereka datang bersama kardus-kardus mereka tanpa hati hanya demi uang yang jumlahnya tidak seberapa….

Yakin, po?
I see chauvinism here *shot*

3 11 2009
Adriano Minami

Seekstrim itukah saya? Jelaskan pendapat anda coba.

Jika permasalah kebahasaan sudah saya ubah

3 11 2009
lemonsile

buat situ mungkin ga seberapa. tapi setidaknya itu pekerjaan mereka buat kehidupan mereka, mentang-mentang ga seberapa bukan berarti bisa melihat mereka lebih rendah.
buat mereka mungkin jumlah itu udah cukup, kebutuhan Anda berbeda dengan dia. begitu pula disiplin Anda juga berbeda. Disiplin Anda sebagai akadenisi mungkin menuntut kedisiplinan dan keteraturan tapi bagi mereka mungkin hal itu justru bisa jadi mengurangi penghasilan. Dispilin (non formal) mereka menuntut seperti itu, kalau Anda tidak setuju serang sistemnya, jangan mereka yang tidak teratur yang Anda pandang rendah.

4 11 2009
Adriano Minami

Saya tidak terlalu peduli mengenai latar belakang, yang jelas menurut saya kedisiplinan itu adalah harga mati yang harus dipatuhi oleh seluruh pengguna jalan darimanapun latar belakangnya.

Semakin tidak teratur bukankan menunjukkan bahwasannya mereka “rendah” bukan?

4 11 2009
lemonsile

ketidakpedulian Anda terhadap latar belakang membuat saya memandang “rendah” Anda sebagai seorang manusia 🙂

6 11 2009
Nikias

Saya pikir ujung-ujungnya masalah pendidikan. Pilar paling mendasar dari segala hal. Singapura adalah contohnya. Masyarakat teratur karena dari kecil dididik untuk jadi orang teratur (lewat kurikulum di sekolah2). Ditambah perangkat hukum yang tegas untuk mengatur orang. Jadi, ya sukses.

* Asumsi: saya pikir penunggang kardus itu juga pernah sekolah meski cuma SD* 😀

4 11 2009
Nikias

Saya sendiri sering melihat kardus-kardus itu saling balapan layaknya F1. Ibu-Ibu yang di dalam kardus itu pun suka teriak-teriak ketakutan.

Yaa bisa jadi si pemilik kardus itu menetapkan setoran yang terlalu tinggi sehingga para supir kardus itu saling berebut untuk mendapat penumpang yang sebanyak mungkin dari kardus-kardus lainnya.

Tapi jika asumsi saya tidak berlaku. Patut dipertanyakan SIM A-nya. Kasihan penumpang dalam kardus itu yang harus deg-degan menanti ajal.

4 11 2009
si orang aneh

Angkot apa bus kota nih?

Kalo menurut gw sih mereka begitu juga gara2 kebutuhan kan? Kalau masalahnya gara2 kesejahteraan sih bukan 100% salah mereka juga, cuma emang mereka gak bisa dibilang bener gara2 mengganggu jalan & bikin bahaya buat orang lain.

4 11 2009
Adriano Minami

@Nikias :

Selaku pengguna kardus yang cukup sering, saya bisa mengerti apa yang anda maksud tentang bagaimana kondisi didalam kardus2 itu.

Mengenai uang itu sebenarnya, kan banyak tuh orang yang butuh kalo mereka mau disiplin. Jangan maksa ama ngotot juga yang akhirnya malah nyusahin khalayak umum.

@Hyou :

Sekali lagi, ini bukan masalah kemiskinan tapi masalah keteraturan

4 11 2009
si orang aneh

Kalo keteraturan sih menurut gw awalnya dari kemiskinan mereka juga, soalnya mereka jadi harus saingan sama sesama sopir angkot yg tingkat pendidikannya sama2 nggak tinggi2 amat. Kalo aja mereka lebih terdidik & kesejahteraannya lebih bagus, mungkin mereka nggak ngelakuin itu cuma buat dapat tambahan pendapatan yg kalo buat ukuran kita nggak seberapa.

17 07 2010
Lake_Filter

Bukan maksud menyanggah, ini tanggapan yang gw dapet dari seseorang atas pernyataan serupa yang gw lontarkan:

“Jangan salahkan supirnya, salahkan penumpangnya… Kalau penumpangnya tertib, pasti supirnya pun akan tertib… Toh, biasanya penumpangnya khan lebih pintar daripada supirnya, harusnya penumpangnya yang lebih tahu diri daripada supirnya…”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: