Hari Kemerdekaan?

19 08 2009

Belakangan ini, pembicaraan mengenai kemerdekaan dan nasionalisme sering terdengar dalam keseharian kita. Setiap orang meneriakkan semangat kemerdekaan di mana-mana. Tidak heran, sebentar lagi Indonesia akan memperingati Proklamasi Kemerdekaannya yang akan jatuh pada tanggal 17 Agustus nanti. Enam puluh empat tahun silam pada tanggal itu, pada pukul 10.00 pagi, Ir. Soekarno dan Drs. Muhammad Hatta membacakan teks proklamasi dihadapan umum yang menyatakan kemerdekaan Indonesia, dan seluruh rakyat Indonesia menyambut dengan gembira pernyataan tersebut.

Namun, menurut penulis itu hanyalah pembacaan teks proklamasi belaka. Karena sampai saat inipun bangsa Indonesia masih terjajah. Walaupun penjajahan secara fisik negara ini telah berakhir semenjak penyerahan kedaulatan negara pada 27 Desember 1949, kita belum bisa dikatakan bebas, kita belum merdeka. Bangsa ini masih terjajah baik dari dalam maupun dari luar. Sudah banyak orang yang mengetahui penjajahan apa saja yang datang dari luar, yaitu penjajahan politik, sosial, dan perekonomian. Karena itu, penulis akan membahas tentang penjajahan yang datang dari dalam bangsa Indonesia sendiri, yaitu:

Pertama, bangsa Indonesia masih terjajah oleh kebodohan. Bangsa kita masih belum memiliki pemikiran yang semaju bangsa-bangsa lain. Kebodohan yang dimaksud dalam penulisan ini bukan dalam hal pendidikan, mengingat masyarakat Indonesia belajar lebih banyak mata pelajaran dari negara-negara lain. Hal ini bisa dilihat dari padatnya kurikulum pendidikan di Indonesia. Kebodohan dalam penulisan ini lebih kepada pola pikir bangsa Indonesia yang cenderung lebih sempit akibat pendoktrinan akan kebencian, kedengkian, dan pemikiran “semau gue” serta “budaya instan” yang merajalela di negara ini. Contoh yang paling mudah dalam keseharian kita adalah dalam hal berlalu lintas. Banyak pengendara kendaraan bermotor yang melanggar aturan berlalu lintas di jalan raya. Mereka melihat adanya larangan dan tahu bahwa hal itu salah, tetapi dengan kebodohannya, masih saja melanggar itu dengan “sok tahu”. Lebih parah lagi, mereka terkadang ngotot jika ditegur oleh orang lain, apalagi orang yang dianggap bukan kaumnya. Bisa dikatakan “Sudah bodoh, sok tahu pula”.

Kedua, bangsa Indonesia masih terjajah oleh rasa takut. Rasa aman masih menjadi sebuah komoditas yang mahal di negara ini. Kedengkian, “budaya instan”, dan tentunya kebodohan adalah penyebab utamanya. Semua itu membuat kita tidak saling percaya satu sama lain. Tentu saja ketidakpercayaan menyebabkan hilangnya rasa aman dan nyaman akan suatu hal dan selanjutnya mengarah kepada ketakutan. Contoh penjajahan oleh ketakutan yang paling baru dan ngetren adalah terorisme.

Ketiga, bangsa Indonesia masih terjajah oleh kemalasan. Malas untuk bekerja sungguh-sungguh dalam segala hal dan malas untuk peduli pada sesama, malas untuk memiliki inisiatif, malas untuk maju, malas untuk berusaha dan bekerja keras, dan segala kemalasan lainnya. Kemalasan adalah yang paling berat diantara ketiga penjajahan yang dimaksud, karena kemalasan menghambat perubahan dan tentu saja menghambat kemajuan.

Masih banyak lagi hal yang menjajah bangsa ini. Namun, pada intinya adalah bangsa Indonesia belum bisa dikatakan merdeka sepenuhnya baik dari dalam maupun dari luar. Memang, kita tidak mungkin mampu benar-benar lepas dari pengaruh dan pengaturan dari ketiga hal itu. Tapi, apabila bangsa Indonesia mampu melawan setidaknya 50% dari ketiga hal di atas, setidaknya bangsa ini bisa dikatakan merdeka.

Dalam tulisan ini, penulis berharap bahwa masyarakat Indonesia tidak menganggap bangsa ini sudah merdeka dari segala aspek kehidupan. Hari Peringatan Proklamasi Kemerdekaan yang jatuh pada 17 Agustus nanti dapat dijadikan momentum untuk mengingatkan bahwa perjalanan menuju kemerdekaan yang sesungguhnya masih jauh. Untuk itu, marilah kita sebagai masyarakat Indonesia yang peduli pada negeri ini berjuang bersama-sama demi meraih kemerdekaan seutuhnya.

Iklan

Aksi

Information

9 responses

19 08 2009
kuecokelat

uwaa.. kritis ya-

kita ga bakal maju klo qt sendiri blum mengalahkan rasa malas,takut dan kebodohan dlm diri kita sendiri 🙂

20 08 2009
Adriano Minami

Saya? Kritis? Hahaha, masih banyak yang lebih kritis lah 😀

Kurang lebih begitulah yang dimaksud

19 08 2009
Xaliber von Reginhild

Nah, penjajahan tidak akan pernah berakhir, bahkan di negara seperti Amerika Serikat sekali pun. Misalnya, dominasi mayoritas terhadap minoritas terjadi di mana saja — opresi terhadap minoritas yang pada akhirnya mesti mengalah, jika itu terhitung sebagai penjajahan. 😉

20 08 2009
Adriano Minami

Penjajahan intranegara ya? Antar ras, agama, golongan, dll?

Ya, itu juga penjajahan namanya

20 08 2009
Xaliber von Reginhild

Then by that definition, independence does not exist. 😕

19 08 2009
Xaliber von Reginhild

Oh ya, bahkan kita seringkali menemui diri kita “dijajah” oleh dogma agama. Hahaha…

20 08 2009
dira

Mungkin juga dijajah oleh “kebebasan” kita sendiri.. 🙂

20 08 2009
Xaliber von Reginhild

IMO, kebebasan tidak bisa menjajah, mas… karena kebebasan tidak identik dengan restriksi. 🙂

20 08 2009
Adriano Minami

Berbentuk penekanan ya?

@dira : Hm? Bagaimana contohnya?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: