Nilai? Penting gak sih?

7 08 2009

Jika kemarin saya berbicara mengenai PR, saya kali ini lebih tertarik membicarakan nilai. Mengapa? Dalam sistem pendidikan di Indonesia seringkali terlalu membesar2kan nilai angka. Nilai dianggap sering kali benar-benar mencerminkan si siswa tersebut dalam pelajaran itu. Jika nilainya bagus, dianggap pintar dan tuntas. Jika nilainya tidak bagus, dianggap kurang pintar dan harus mengulang materinya itu.

Anggapan bahwa nilai sangat menggambarkan itu menyebabkan adanya suatu patokan nilai. Nah, urusan ini yang membuat saya bingung. Mengapa? Karena jika siswa nilainya dibawah standar, harus diulang hingga mencapai ketuntasan. Hal ini saya kurang suka sebenarnya, karena ini namanya standarisasi paksa. Seharusnya nilainya dibiarkan sehingga lebih terlihat perbedaan antar siswa itu. Bukannya sombong, tapi agar mereka juga terlihat lebih jelas bagaimana perbedaan kemampuan mereka.

Lalu? Bagaimana? Menurut saya sebaiknya nilai tidaklah perlu ada standar, karena standarisasi nilai menurut saya penuh kepalsuan. Lagipula, saat ini seharusnya janganlah mematok standar. Tetapi seharusnya siswa lebih diajak supaya memperoleh nilai setinggi2nya.

Standarisasi yang paling menyebalkan menurut saya adalah antara UN dan sekolah negeri, NEM dianggap sebagai dewa oleh penerimaan sekolah negeri, NEM hampir merupakan segalanya. Jika NEMnya jelek, maka hanya mendapat sekolah Negeri yang jelek.

Walaupun saya mengatakan demikian, namun saya rasa sistem yang saya ungkapkan memang sulit diterima.

PS : Agak ngaco memang, sori ^^

Iklan

Aksi

Information

8 responses

7 08 2009
syn

hmm… gimana, ya?

Karena jika siswa nilainya dibawah standar, harus diulang hingga mencapai ketuntasan.

remedial itu nyebelin, tapi hal ini IMO ada untungnya juga. mau tidak mau, nilai itu tetap penting, lho. ulangan harian cuman dapat 5 tanpa remed, nilai dirapot ntar gimana? anggap saja murid diberikan kesempatan kedua. IMO, remedial juga bisa menambah motivasi murid agar belajar lebih giat lagi, kok. ^^

NEM dianggap sebagai dewa oleh penerimaan sekolah negeri, NEM hampir merupakan segalanya.

inilah susahnya. kadangan, anak yang asli pintar tapi idealis tanpa nyontek mendapat nilai lebih rendah dibandingkan siswa yang main curang… saya juga tidak setuju.
e, tapi… sekarang kan juga udah banyak sekolah bagus yang ngadain seleksi untuk masuk sekolah tersebut. walau sebenarnya dalam tes tersebut masih ada kecurangan, sih… 😕

9 08 2009
Adriano Minami

Kalo remedial, okelah. Tapi saya cenderung lebih milih ngulang biar adil gitu.

Kalo NEM, saya tetep gak setuju gimanapun.

8 08 2009
Generasi Patah Hati

Nilai itu penting dan bagus buat tolak ukur, asal semua mengerjakan test dengan jujur, tapi kenyatannya di lapangan kan sekarang lain, jadi nilai kebanyak gak murni sekarang *sigh*

9 08 2009
Adriano Minami

Nah, makanya saya pikir nilai tidak terlalu efektif buat jadi tolak ukur

9 08 2009
Taruma

malah, klo gak ada standar nilai.. makin kacau tuh, pe-`nilai`-annya.. hahaha. 😀

9 08 2009
Adriano Minami

pe-nilai-an apa tuh? 😀

10 08 2009
Taruma

penilaian terhadap bahwa siswa layak untuk materi selanjutnya..

bagaimana dia melanjutkan materi aljabar jika perhitungan biasa saja mendapatkan nilai 30/100.. tapi, bisa juga sih dapet 30 gara-gara lagi sial aja. hehehe.

20 08 2009
NobodyKnowsMe。

kata guruku, “sekolah jangan cari nilai. tapi sekolah carilah sesuatu yg bernilai”

menurutku nilai ga penting. yang penting kita ngerti apa yang kita pelajari. tapi, kalo nilainya ga tinggi.. susah masuk perguruan tinggi.
REPOT

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: