Menolak PR

2 08 2009

Pekerjaan Rumah atau PR adalah hal yang tidak terpisahkan dalam kehidupan sekolah, setiap hari seringkali siswa2 diberikan PR dari berbagai pelajaran. Ada PR yang berupa mengerjakan soal, mencari artikel dan dikomentari, atau sebagainya. Terkadang ada yang berkelompok juga, ya intinya begitulah.

To The Point. Yang saya ingin sampaikan saat ini adalah, bahwa saya secara pribadi kurang setuju dengan keberadaan PR, kenapa?

Menurut saya pribadi, anak-anak sekolah di Indonesia sudah terlalu banyak waktunya disita oleh waktu sekolah, khususnya SMP dan SMA. Mereka berada di sekolah sejak pagi (bahkan lebih pagi daripada waktu kantoran), hingga sore. Atau bahkan yang merasa kurang dalam suatu bidang bisa saja mengambil les tambahan sehingga bisa saja sampai malam. Jika sudah demikian, dimanakah waktu untuk urusan lainnya?

Walaupun kurang setuju, saya tetap saja menganggap PR (yang memang benar2 tidak bisa dilakukan di sekolah) itu penting dan harus ada. Mengapa? Kehidupan selanjutnya akan lebih rumit, mereka bahkan harus mengambil waktu lebih banyak sehingga harus meninggalkan keluarganya. Jadi sebagai latihan untuk masa depan.

Tapi, tetap saja saya kurang setuju. Menurut saya pribadi saja, kehidupan sekolah dan kehidupan diluarnya tidak mau saya gabung. Jadi saya akan mengerjakan urusan sekolah di sekolah, urusan rumah di rumah. Hal ini yang membuat saya sering mengerjakan PR di sekolah.

Jadi, kesimpulan yang saya ingin berikan adalah. PR itu perlu, tetapi jika bisa dilakukan di sekolah sendiri mengapa tidak?

PS : Hanya pendapat pribadi yang kompleks, tanggapan dengan cara yang baik dipersilahkan

Iklan

Aksi

Information

21 responses

2 08 2009
gitablu

sebetulnya, dulu saya malah ngerjain PR di sekolah, pas jam istirahat ato sebelum masuk kelas. Jadinya namanya bukan PR lagi dong 😕

bayangkan aja, jika dalam 1 hari ada 3 PR dan 2 ulangan, gimana si anak mau bagi waktu?

2 08 2009
Adriano Minami

Nah, itu yang saya permasalahkan di tulisan ini.

Sebut saja Tugas Sekolah lah biar jadi “general”

2 08 2009
Xaliber von Reginhild

Hmm. Beberapa guru memberi PR untuk membuat muridnya belajar. Yah, bahkan sampai kuliah juga masih ada dosen yang begitu sih. Ada dosen yang dengan santainya bilang, “Kalo kalian ngerjain tugas yang diberikan, nanti ngerjain ujiannya gampang. Ujian itu modelnya sama kayak tugas.”

Sebenarnya apa inti yang bisa siswa ambil dari sebuah tugas?

Apa itu cuma ‘kewajiban’ yang berat-beratin dan bikin males — kerjaan tak berguna yang nyontek temen juga bisa asal dikumpulin? Atau itu salah satu metode untuk mengkaji kembali materi pelajaran — yang kebetulan disusupi oleh tanggung jawab untuk menjelaskan pengertian kita terhadap kajian itu kepada guru?

Kalau guru memberikan kebebasan besar dalam rangka mengerjakan “pekerjaan rumah” itu, juga jika murid menyikapinya dengan proaktif, saya yakin jawabannya bisa terjawab sendiri. :mrgreen:

3 08 2009
Adriano Minami

Jadi, anda lebih setuju dengan cara menjadikan itu sebagai “sunah”?

Permasalahannya, jika terlalu diwajibkan malah jadi malas

4 08 2009
Xaliber von Reginhild

“Kewajiban” itu, menurut saya, justru adalah pelatuk untuk membuat murid mau menilik PR-nya. Terlepas dari apakah itu pelatuk yang cocok atau bukan ya.

Soalnya kalau nggak ada kewajiban saya ragu apa bakal masih ada yang menilik/mengkaji ulang PR itu.

4 08 2009
Adriano Minami

Ya, susahnya itu. Kalo gak dikasih, males juga jadinya.

Jadi, bagaimana sebaiknya menurut anda?

9 08 2009
Xaliber von Reginhild

Menurut saya sih tetap dikasih aja. Ya seperti yang sudah berlaku sekarang ini lah. Lagipula, nggak semua guru kan ngasih PR-nya bejibun. Belum bisa digeneralisasi, IMO. 🙂

3 08 2009
ranfan

setuju! kalo pulang sekolah udah sore-sore gitu ditambah PR segunung, apa namanya nggak menyiksa murid? huu~

apalagi kalo udah bikin setengah mati tapi akhirnya nggak diperiksa, atau cuma dikasih tanda tangan.. kan nggak setimpal dengan proses ngerjainnya yang setengah mati ngerepotinnya.. T^T

3 08 2009
Adriano Minami

Yaaahhh… Saya sering begitu akhir2 ini. Tanpa terlalu memandang jawabannya sendiri, yang penting terlihat selesai. Tanda tangan aja deh (annoyed)

3 08 2009
lemon

Jadi ente sebenernya setuju apa kaga sih?

3 08 2009
Adriano Minami

Silahkan simpulkan dari kata2 diatas

3 08 2009
dudut

tau neh jadi sbenernya setuju apa ga?

mungkin dan pastinya maksud guru itu baik biar kalian pada latihan dan mengulang kembali materi yang diberikan,,,tapi mungkin juga maksud yang baik ini belum menggunakan cara yang baik juga,,,jadi hasilnya belum tentu sama ma tujuan awalnya,,,

masalahnya guru juga dituntut untuk punya nilai dari sumber selain absen, keterlibatan belajar, dll..
kadang guru juga ga sempet ngasih latihan di kelas,karena dah kehabisan waktu buat “ceramah” tentang materinya,,,jadi dikash PR d,,,yg secara formalitas akan dimasukin untuk nilai kalian,,masalahnya klo mau menilik apakah memberikan PR itu bagus apa ga dampaknya, akan jadi panjang pembahasannya,,karena menyangkut banyak juga,,misalnya:
guru kasih pr karena waktu di kelas ga cukup buat ngadain latihan,,,padahal keadaan siswa ga sama semua setelah pulang sekolah nanti,,ada yg banyak les,,ada yg musti bantuin ortu,,,ada yg kurang sehat,,dll,,,,tapi siswa juga ga bisa protes,,karena guru harus nunjukin kalo pembelajaran dah tuntas,,,guru jg dilema antara teori memahami siswa sama tuntutan sekolah yg juga jadi tuntutan pemerintah,,,

hah,,,,jangan dipikir jadi guru juga cuma nagsih pr aja,,kalian cuma bikin 3 pr dan 2 ulangan dalam satu hari,,,
tapi guru meriksanya tugas dan ulangan siswanya aja sebanyak ratusan siswa,,,coba klo guru ngajar 3 kelas,,,1 kelas isinya 40 orang dikali 3,,,blom selesai meriksa dah musti nyiapin lagi materi ajar buat besoknya,,
huh,,, yah intinya kerja sama aja,,,

guru sebagai fasilitator siswa untuk berprestasi dan berilmu,,,,
ingetloh,,,guru cm fasilitator,,,jadi kalian siswa2nya yg menentukan keberhasilan kalian sendiri,,,

4 08 2009
Xaliber von Reginhild

Nuff said. Fasilitator. :mrgreen:

4 08 2009
Adriano Minami

Maka dari itu, harusnya itu lebih terserah murid IMO.

4 08 2009
dudut

klo teori pembelajran emang terserah murid,,,lebih humanistik,,,,tapi sayangnya kita tinggal di Indonesia,,,yang mayoritas dan kebetulan temapt sekolah kmu belum bisa menerapkan humanistik sepenuhnya,,,

waktu aku ke salatiga untuk observasi sekolah,,,nah km bisa d tuh sekolah di tempat itu,,,ga pernah ada peer,,,wifi gratis 24 jam,,,bayaran sukarela,malah ga bayar jg gpp,,,waktu belajar ditentuin sendiri,,,mencari sumber informasi sendiri,,,menentukan sendiri apa yg mau dipelajarin,,,intinya sekolah suka-suka,,,,
pas di tes untuk UN? anak2 itu ya bisa,,,itu sekolah full humanistik,,,,belajar dari kamu untuk kamu,,,TANPA PR,,,

5 08 2009
Adriano Minami

sayangnya kita tinggal di Indonesia

Kata2 paling menyedihkan, hahaha.

Seperti itu juga menarik, hanya saja masih kurang cocok di Indonesia, mengapa? Kebanyakan murid disini harus lebih banyak “dituntun”. Kalau tidak, gak bakal punya niat belajar mereka.

Itulah alasan mengapa banyak diantara mereka menyerah pada kemiskinan. Sebelum program dibawah bisa diluaskan, mereka harus menjadi Idealis terlebih dahulu

5 08 2009
Taruma

Biar cari tahu jawaban dari pertanyaan `kenapa harus ada PR` triknya sebagai berikut :

1. Jangan kerjakan PR-nya..
2. Setiap guru pasti bertanya “Kenapa gak ngerjain PR?”
3. Jawablah dengan sudut pandang kamu..
4. Pasti terjadi percekcokan…
5. Gurunya gak bakal ngasih PR lagi.
6. Kalo parah, gurunya gak bakal masuk lagi..
7. jika, no 5 & 6 gagal.. maka, nilai kamu bakalan kecil.. hahahaha.

5 08 2009
Adriano Minami

Guru disini ada yg memiliki cara yang agak berbeda, trik lain mungkin?

5 08 2009
Taruma

Buktikan klo nilai kamu bisa sempurna selama 3 bulan.. nah 3 bulan berikutnya, gak usah kerjain PR..

sekedar berbagi pengalaman, saya pernah gak diperiksa PRnya gara-gara si gurunya dah yakin klo saya tuh ngerjain PRnya..

intinya, menjilat lah di awal-awal.. hahahahha. ntar berikut”nya mah santai..

5 08 2009
Adriano Minami

Menjilat guru? Well, saya memang akrab dengan guru tapi bukan tujuannya itu.

Tapi kadang ngefeknya gitu, udah terpercaya :p

12 11 2009
marina maya santi

wah ini nih,kebetulan saya dapet tugas presentasi ttg homework,kira2 jika ditilik dr sudut pandang secara universal apa sih manfaat nay PR buat murid terlepas murid itu ngerjainjnya optimal ato tdk, copy paste ato tidak ,nah klopun byk yg kontra thdp PR apa solusinya kira2 selain kita kasih murid2 PR

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: