Totem pro parte di Orde Baru

3 03 2009

Ya, kita bukan berada di pelajaran Bahasa Indonesia saat ini. Tapi kali ini saya akan membahas mengenai Orde Baru pada masa lalu.

Sebelum lebih lanjut, saya akan jelas kan apa itu Totem Pro Parte. Secara bahasa, totem pro parte itu berarti mengambil keseluruhan untuk suatu bagian. Dalam suatu kalimat contohnya adalah “Anak SMA Labschool pergi ke Plaza Semanggi” , padahal hanya beberapa orang diantara siswa SMA Labschool yang pergi kesana. Tapi jika disebutkan demikian, seolah-olah seluruh anak SMA Labschool yang pergi kesana.

Majas satu ini disalahgunakan oleh pemerintahan Orde Baru yang dipimpin oleh Soeharto bersama Golkar, menggunakan keseluruhan untuk sebagian. Hal ini saya bisa katakan berdasarkan dari dua hal.

Pertama2, pada masa Transisi antara pemerintahan Soekarno dengan Soeharto. Banyak “totem pro parte” yang terjadi saat itu, misalkan pada orang2 yang saat itu banyak menyanyikan lagu Genjer-genjer, ditangkap, disiksa, dipenjarakan, atau bahkan dibunuh. Karena lagu Genjer-Genjer saat itu sangat identik dengan Gerwani yang merupakan sekutu dari PKI.

Kasus yang terjadi adalah seperti ini

Genjer-Genjer adalah lagu yang sering dinyanyikan oleh Gerwani –> Gerwani adalah sekutu PKI –> PKI dianggap memberontak, jadi harus disikat

Akibatnya, yang nyanyi/menari lagu Genjer-Genjer akan dianggap antek2 PKI dan bisa diperlakukan semena2.

Lalu, hal ini juga terjadi pada warga keturunan Tionghoa pada saat itu, kali ini kasusnya adalah

Tiongkok adalah negara berhaluan komunis –> Komunis adalah pemberontak, harus diganyang

Akibatnya, banyak warga keturunan Tionghoa dianggap PKI dan juga diperlakukan semena-mena. Bahkan tetangga-tetanga orang yang dianggap PKI juga sering sekali kena “hukum keterlibatan” (Dari New Kung Fu Boy) karena telah dianggap membantu PKI.

Lalu kasus kedua juga terjadi pada masa transisi Orde Baru dengan Era Reformasi, banyak orang-orang keturunan Tionghoa menjadi korban “totem pro parte” pada kejadian satu ini. Hanya beda kasus, kali ini kasusnya seperti ini, pada saat kejatuhan ekonomi pada tahun 1997. Banyak perusahaan yang mengalami kejatuhan ekonomi, dan banyak pula bos-bos keturunan Tionghoa yang kabur ke luar negeri, kurang lebih seperti ini kasusnya

Banyak orang yang kabur ke luar negeri membawa uang negara –> Sebagian besar orang yang kabur itu keturunan Tionghoa –> Orang Tionghoa dianggap tidak solider dengan Indonesia

Akibatnya, peristiwa berdarah pada tanggal 13-14 Mei 1998 itu terjadi akibat sentimentil hal-hal seperti itu. Iklan-iklan propaganda di mana-mana yang mengajak untuk cinta rupiah dan Indonesia turut memperparah kejadian itu

Itulah beberapa contoh “totem pro parte” di Orde Baru, sampai sekarang juga masih ada atau bahkan bertambah banyak seperti kasus terorisme yang mengkambinghitamkan umat Islam, invasi Zionis ke Palestina yang mengkambinghitamkan umat Yahudi, dsb.

Jadi?

Iklan

Aksi

Information

8 responses

5 03 2009
Ken Arok

Hahahaaa… Orde Baru nggak bodoh kok. Ini permainan politik. Politik Kresna.

Coba baca Mahabharata, versi Jawa tentunya. :mrgreen:

8 03 2009
Novi~Atrix

hmmm… kalo pada masa tahun 1997 waktu demonstrasi… wew… susah… T_T kita2 yg orang tionghua harus lari sana lari sini buat cari perlindungan…. tapi sekarang untunglah,, tidak ada kejadian seperti itu lagi…. 😀

10 03 2009
Arm

ya, itu yg biasanya disebut “generalisasi”. karena itu kalo emang terpaksa mencela, sebaiknya yg dicela itu orang-nya, bukan sesuatu di belakangnya
tapi lebih baik lagi kalo tidak saling mencela 🙂

mungkin sedikit berkaitan dengan peribahasa lokal : “karena nila setitik, rusak susu sebelanga” 😕

10 03 2009
Rian Xavier

Ya begitulah :mrgreen:

26 03 2009
Xaliber von Reginhild

Fallacy.

*nyampah*

Tapi saya jadi kepikiran. Majas-majas itu ada yang fallacy ya? 😕

3 04 2009
ampun deh

namanya juga manusia, akibat prasangka buruk.

7 04 2009
Lemon S. Sile

@Xaliber:
Bukan masalah majas, bro. Masalah justifikasi bukan? 😕

(+0) Biasa buat tulisannya
*digebuk*

20 04 2009
masamune11

….daripada totem pro parte, saya lebih ingat silogisme dari wacanamu lho ‘ ‘

*dilempar*

prasangka buruk melahirkan lingkaran setan, bung? =w=a

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: