Surga dan Neraka

21 02 2009

Dalam setiap agama yang saya tahu, lampiran mengenai surga dan neraka selalu dilampirkan dalam pembicaraan kehidupan sesudah mati manusia. Disebutkan bahwa orang yang baik dan beriman akan dimasukkan dalam surga yang kekal dan penuh kenikmatan tiada habisnya, sedangkan bahwa orang yang jahat dan ingkar akan dimasukkan dalam neraka yang kekal serta penuh siksaan dan penderitaan tiada akhir. Hal ini menyebabkan manusia menjadi takut kepada neraka dan mengharapkan surga tentunya.

Pertanyaannya adalah, apa yang akan terjadi misalkan surga dan neraka itu tidak ada?

Sebagian besar manusia masih beribadah karena takut kepada neraka dan mengharapkan surga, jadi kebanyakan mereka beribadah semata2 untuk menghindari neraka dan mendapatkan surga. Jadinya orientasi mereka bukanlah lagi kepada Tuhan dan semata-mata hanya karena takut terhadap siksa-Nya.

Bukankah ini termasuk tidak ikhlas/munafik?

Jika sebagian besar manusia menyembah Tuhan karena takut akan ancaman siksaan Tuhan atau karena mengharapkan kenikmatan tiada akhir dari-Nya, tentulah itu bukan suatu hal yang disebut “ikhlas semata-mata untuk-Nya”. Orang2 berbuat baik karena sekedar takut pada siksaan-Nya.

Jadi, apakah yang terjadi jika Surga dan Neraka itu tidak ada?

Mungkin sebagian besar manusia akan kehilangan esensi untuk beribadah dan berbuat baik, dunia akan kacau balau, manusia akan berbuat seenaknya dan mempunyai anggapan seperti umat di jaman Nabi Nuh “Hidup hanyalah sekali dan setelah mati akan kembali menjadi tanah tanpa arti” Jadi mereka hanya akan memuaskan apa yang mereka inginkan.

Maka dari itu, penulis tidak pernah menjadikan Surga itu sebagai orientasinya atau Neraka sebagai sesuatu alasan untuk tidak berbuat buruk. Tetapi apa yang saya lakukan lebih kepada apa yang ada di hati saya.

Jika saya menganggap hal itu baik, saya akan kerjakan dan yang saya anggap buruk akan saya tinggalkan. Tuhan bukanlah untuk ditakuti, janganlah seperti Kuli Bangunan yang hanya bekerja dengan baik jika diawasi. Makhluk yang cerdas dan berakal seharusnya sudah tahu kewajibannya dan juga sudah tahu apa yang baik dan buruk untuknya.

Intinya, ikutilah kata hati anda. Jangan jadikan Surga sebagai Orientasi anda dalam berbuat kebaikan. Tapi pastikan bahwa anda berbuat kebaikan karena anda menganggap hal itu baik.

Iklan

Aksi

Information

6 responses

22 02 2009
Amanda K

Huaha… Awalnya saya sempat ingin menulis soal ini, tetapi sudah didahului anda (dan mungkin sudah disampaikan dengan lebih baik pula 😦 )

Saya jadi ingat dengan ucapan Jorgan di Fairly Odd Parents: “You do good things, not so that people will like you , but you do good things because they’re the right thing to do.” (lupa frase depannya apa, tetapi sesuatu semacamnya lah)

Lalu seperti orang-orang yang maksa ingin shalat jamaah karena ingin pahalanya menjadi berlipat ganda, huahaha… Saya rasa, yang mengejar pahala saat berbuat baik bukan ikhlas lagi namanya, tetapi opportunistis. Hanya saja, mereka opportunistisnya lebih berpikir ke depan? 😛

Saya juga merasa tidak baik merasa ‘takut’ kepada Tuhan. Saya segan, tentunya, tetapi out-of-respect, bukan out-of-fear (ya, semoga sudah seperti itu sih).

22 02 2009
Fadhil

AFAIK untuk yang imannya masih kroco kayak saya, beribadah atau berbuat baik karena mengharap surga masih sah-sah sahaja 😀
tapi untuk yang iman tingkat tinggi, ibadah itu tujuannya hanya satu, yaitu mengharap ridho Allah, jadi untuk iman tingkat tinggi ini, dimasukkan neraka pun tak masalah katanya, asal Allah ridho 😀

22 02 2009
aroe

hahahahaha, permasalahan klasik mengenai surga dan neraka. Bahkan sampai ada lagunya.

Memang jika itu tidak ada, masihkah kau sujud kepada-Nya?

Jawabannya ada di hati masing2 individu, apa sebenarnya yang anda harapkan dari setiap tarikan nafas anda. Apakah pahala dan dosa, apakah untuk masuk surga dan neraka, atau yang lainnya. Semua kembali ke individu itu sendiri masing2.

Dalam konteks Agama Islam itu sendiri, sebenarnya sudah tepay yang dikatakan oleh bung Fadhil diatas, semua untuk mengharapkan ke-Ridha-an dari-Nya. Kalo kata salah seorang ustadz kondang, “Allah Ridha apa tidak?”

hahahaha, klasik

22 02 2009
Rian Xavier

Kalo gw, ibadah untuk membalas kebaikan Tuhan. Jadi, biarpun nanti masuk neraka saya ga masalah. Coba ingatlah apa kebaikan Tuhan dalam hidup kita. =)

25 02 2009
Rukia

Tuhan itu… (dlm hal ini Allah SWT) Tuhanku yang berkuasa atas aku, temanku, sahabatku, dan tentu saja aku takut padaNya.
Tapi, berbuat baik karena surga dan neraka? Insya Allah bukan itu niatnya, hanya mencari ridho Allah, seperti yang Fadhil bilang “dimasukkan ke neraka pun nggak masalah, asal Allah ridho” 🙂

25 02 2009
Xaliber von Reinhild

Jadi bertanya-tanya. Kalo dibilang, “Ayo solat berjamaah, biar pahalanya lebih banyak” atau “Baca Qur’an itu bisa dapat pahala biarpun salah-salah”… itu motivasinya sebenarnya apa ya?

Eniwei. Ada kalimat stereotipe,

I believe in God, but not in religion.

Bagaimana Anda menanggapinya? 😕

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: