Demonstrasi : Menarik simpati atau antipati?

3 02 2009

Di jaman Reformasi seperti ini, demonstrasi adalah suatu hal yang lumrah terjadi. Tuntutan kehidupan yang lebih layak serta pekerjaan pemerintah yang tidak memuaskan, menyebabkan demonstrasi sangat lazim terjadi.

Tapi sayangnya, cara demonstrasi itu seringkali melanggar aturan dan norma. Bahkan cenderung merusak, mungkin hal ini dilakukan oleh para demonstran untuk menarik perhatian pemerintah yang sepertinya sudah kebal demo.

Tapi, cara demonstrasi mereka terkadang tidaklah membuat Pemerintah/Masyarakat simpati kepada mereka. Malah cara demonstrasi yang rusuh akan membuat rasa antipati, cara2 seperti pembakaran ban, penutupan ruas jalan, atau pembakaran mobil. Bahkan perusakan besar2an seperti yang terjadi di beberapa insiden seperti Malari, Tanjung Priok, Peristiwa 27 Juli 1996, Tragedi Mei 1998, dan peristiwa Semanggi.

Berita yang baru2 ini terjadi mengenai tewasnya Ketua DPRD Sumut akibat tergencet massa yang sedang berdemonstrasi. Jika dipikir2 kembali, sebenarnya apa sih esensi demonstrasi mereka yang sesungguhnya?

Merujuk pada Xaliber, saat ini memang esensi demonstrasi di Indonesia sudah mulai hilang. Alasan demonstrasi yang pada awalnya untuk memperjuangkan rakyat kini berubah menjadi ajang gengsi pamer jaket. Maka dari itu, cara dan aturannya pun sudah mulai berubah. Mereka mencari perhatian sebanyak2nya, dengan cara seperti yang telah disebutkan. Mereka mencari cara dengan rusuh atau terkadang anarkis.

Akibat dari hal seperti ini, pemerintah menjadi kebal Demo, bahkan tidak mempedulikannya sama sekali. Demo2 yang seperti inilah yang menyebabkan antipati dari berbagai pihak.

Jadi kesimpulannya adalah, sekarang banyak demonstrasi yang lebih menarik antipati daripada simpati, Esensi demonstrasi telah berubah, dan demo lebih menjadi kepentingan kalangan mereka sendiri.

Sekian dulu, mohon maaf jika ada kesalahan dalam tulisan ini. Kritik dan saran diperbolehkan (pastinya)

Iklan

Aksi

Information

9 responses

4 02 2009
shika

tau tuh orang demo sekarang kaya apaan.
sekarang yang namanya demo tuh cuma teriak2, ngerusakin properti publik, berantem ama polisi, terus pulang. padahal kan bisa minta berunding dan ngomong sama DPR kalo butuh sesuatu, ga perlu kaya gitu caranya. padahal yang demo rata-rata anak kuliah yang mustinya berpendidikan, tapi kok sikapnya norak.

5 02 2009
Rian Xavier

kalo sekarang ini demo itu bukan dari kesadaran. Kenyataan yang terjadi di pasaran adalah demo itu dibayar. Dilema sekali..

5 02 2009
Adriano Minami

@shika :

Mari kita tanyakan kepada para pendemo itu.
Mungkin saja ini karena aspirasi2 lembut seperti menulis artikel di koran dan sejenisnya tidak pernah digubris. Jadi mereka2 yang tidak sabaran pun termakan emosi.

Menurut saya sih keduabelah pihak tidak bisa dibenarkan 😦

@Rian Xavier :

Ya, penambahan jumlah massa supaya didengarkan. Ironis sekali, padahal daripada kebanyakan massa tp gak ngerti apa2an ntar jadi kacau. Lebih baik tidak terlalu banyak tapi mengerti permasalahan dan bisa melontarkan bukti2

6 02 2009
palem7

betul, sekarang orang mau demo karena ada bayaran bukan dari aspirasi diri sendiri, “kebanyakan”

7 02 2009
Taruma

1 kalimat ajah deh..
“Dasar Gak Punya Otak!”
ck, ck, ck, apa jadinya dunia ini… :p

7 02 2009
Lemon S. Sile

Koreksi:
Peristiwa Tanjung Priok dan 27 Juli bukanlah sebuah demonstrasi yang berujug pada perusakan. Justru feedback yang diberi aparat lah yang menjadikannya perusakan. cmiiw Begitu pula dengan Semanggi.
Sedangkan pada tragedi Mei ’98 itu bukanlah demonstrasi. Hanya sekedar ‘chaos’, kekacauan dan demonstrasi itu berbeda. SANGAT berbeda.

ada entri yg baiknya dibaca:
http://guhpraset.wordpress.com/2008/05/30/cara-demonstrasi-yang-lebih-baik-untuk-para-mahasiswa/

7 02 2009
Adriano Minami

@palem7 :

Makanya demo sering sekali gagal kan? 🙂

@Taruma :

Wah, gmana ya?

@Lemon S. Sile :

Trims atas koreksinya 😀

16 03 2009
SPRINTER56 And

woi ad.. dapet tugas dari mr sannin ya ???

gw ada nih tragedi kerusuhan mei.. maw ga ??? jadi referensi

12 03 2010
kharismamahastiti

demo di kecam… padahal peduli ama rakyat aja juga gak.. punya kesadaran nyampein aspirasi aja juga gak…. kemampuan nulis di media terbatas.. bisanya kuliah tok.. jadi pekerja di freeport, exxon,dst yang di kuasai asing.. yg penting bisa makan , punya rumah , mobil ,simpanan di bank.. g mikir 20 ,30 , 40 th… anak cucunya dapat apa kallo kebijakan pemerintah yg gak berpihak ama rakyat ini di biarin ???????? suka gak suka, suatu saat saat kondisi perut rakyat udah kering kerontang.. ujung2nya demo deh !! parahnya pasti bentrok karna udah nyangkut urusan perut yang gak bisa di penuhi pemerintah.. jadi ngapain apatis ama demo ???????? klo g suka, ttplah jadi warga negaara yg kritis degn cara lain…………… yang suka demo biarlah tenang berdemo….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: