Beberapa kegagalan sekolah

21 11 2008

Sekolah, serangkaian kegiatan wajib untuk anak-anak. kurang lebih 1/3 waktu anak-anak selama sehari diisi di sekolah, hal ini menjadikan sekolah sebagai sebuah simulasi permasyarakatan. Ya, di sekolah anak-anak harus beradaptasi dan berinteraksi dengan anak-anak lainnya yang berasal dari latar belakang serta dididik oleh cara yang berbeda. Dan dari sekolah anak-anak sudah dididik dengan berbagai macam kemampuan dasar (Pelajaran maupun non-pelajaran resmi)

Namun, saya menemukan beberapa hal yang membuktikan sekolah (dan kurikulum) gagal dalam mendidik anak-anak, seperti.


1. Murid-murid tidak fokus

Mungkin cara mengajar gurunya kurang asik, namun yang saya lebih tekankan disini adalah jumlah murid yang terlalu banyak dalam satu kelas. Menurut saya, jumlah murid perkelas yang berjumlah 35-45 orang terlalu banyak, melebihi ketentuan fokus anak-anak yang idealnya hanya 1:20, 1:25 maksimal. Jika jumlah muridnya semakin banyak, kelas semakin berisik, posisi duduk makin kebelakang yang mengakibatkan murid yang duduk dibelakang menjadi sama sekali tidak fokus. Dibelakang sana apalagi mojok, guru sering kali kehilangan kontrol kelas karena tidak diketahui sedang apakah dibelakang sana. Mungkin makan? main game? main hape? baca komik? atau tidur? Sekolah disini mengalami kegagalan sebagai berikut

2. Penjurusan yang terlalu dini

Indonesia memiliki satu sistem pendidikan yang amat jarang ditemukan di negara lain apalagi Asia, yaitu penjurusan di SMA. Pada saat kelas 2 SMA, murid sudah terkena penjurusan ke 3 macam kelas. Yaitu, IPA, IPS, dan Bahasa. Sistem seperti ini berpotensi besar menghilangkan kesempatan seseorang, permasalahannya kelas 1 SMA adalah masa yang amat Vital. Dipenuhi kesibukan dan adaptasi yang menyusahkan, hal ini menyebabkan kesusahan pada masa 1 SMA. Jadi namanya tidak fair jika penjurusan sudah ditentukan sejak 2 SMA. Menghilangkan kesempatan banyak orang seperti teman saya yang satu ini, impiannya masuk ke Fakultas Ilmu Komputer gagal karena dia tidak masuk IPA (Waktu kelas 1 SMA, teman saya ini mengalami kesulitan. Maka dia masuk IPS walau nilai2nya sebenarnya baik) Jadi, penjurusan seperti ini seharusnya hanya bisa dilakukan saat kuliah. Bukan saat SMA

3. Ujian yang terlalu bergantung pada nilai

Sistem pendidikan di Indonesia terlalu mementingkan nilai belaka. Sebenarnya saya malas membicarakan tentang ujian semacam ini yang saya alami di pertengahan tahun ini (UN), karena sudah banyak orang yang membicarakannya. Namun saya ungkit kembali sebagai contoh ujian yang hanya mementingkan nilai belaka, standarnya setiap tahun “disesuaikan” tanpa mengecek ulang kualitas pendidikan saat ini. Mereka menganggap bahwa nilai yang baik adalah tanda baiknya kualitas pendidikan di Indonesia. Padahal, nilai seperti itu bisa dengan mudah dimanipulasi. Berkaca dari Finlandia (?), negara yang standar pendidikannya salah satu terbaik. Disana tidak ada standar nilai, karena mereka dididik untuk maksimalisasi, bukan standarisasi. Jadi tidak bisa hanya berdasarkan itu saja


4. Kurangnya pengoptimalisasian Otak

Disini, yang menjadi standar dalam raport, ujian, dan kenaikan kelas. Adalah pelajaran-pelajaran akademis khususnya eksak, nilai-nilai non-eksak seperti Agama, Seni Rupa, Seni Musik, Komputer, dsb. Dan nilai-nilai kerajinan dan kelakuan pun hanya ditaruh di Raport, bukan sebagai penentuan akhir. Bayangkan, apakah lebih baik meluluskan orang yang pintar tapi berkelakuan buruk atau orang yang biasa saja? Serta ada pula kasus begini, seorang murid yang telah mengharumkan bangsanya di bidang Seni tidak lulus UN. Padahal Otak Kanannya (?) berkembang amat pesat, namun tidak lulus karena sistem pendidikan sekarang tidak mengoptimalkan fungsi otak yang kanan (?)

Sisanya akan ditambahkan pelan2, thanks

Iklan

Aksi

Information

28 responses

21 11 2008
Mi Chan

Setuju bgt!

21 11 2008
Adriano Minami

Masih ada lagi, mungkin kurang banyak, kurang panjang atau apalah

22 11 2008
Lemon S. Sile

Nyem.

Kamu udah liat postingan lamaku tentang sekolah belum? Sudah berkarak tenggorokanku ngomong seperti ini.

22 11 2008
Lemon S. Sile

Nyem. Anak IPS udah bisa masuk jurusan IPA. To, sistem UMPTN kemarin begitu. ASALKAN si peserta yang dari IPS bisa berkompetisi dengan yang dari IPA.

22 11 2008
Lemon S. Sile

….dan Nyem. Hetrik.

22 11 2008
Unit 076

Heh, dobo, kalo mau ngawur, yang bener nulisnya! Fakultas Ilmu Komputer, bukan Komunikasi.

23 11 2008
Adriano Minami (Gak Login)

@Lemon S. : IPC kan? Saya juga capek, tp gak sengaja kebahas tadi

@Unit076 : Koreksi diterima, kok kalo mau ngawur?

23 11 2008
Hyou

gw sih lebih tertarik dgn masalah UAN…emang kaga adil juga sih kalo UAN dijadiin patokan buat lulus, soalnya org yg pinter juga pasti bisa aja dpt nilai di bawah standar… =))

yg parah dari UAN sih yg diliat cuma nilai ujian itu aja buat patokan lulus, bukan hasil kerja anak selama 3 tahun… =))

buktinya ada anak yg nilainya lumayan bagus bias ga lulus gara2 pas UAN ada 1 pelajaran yg nilainya di bawah standar kelulusan & ada anak yg di sekolah nilainya ancur lebur tapi pas UAN nilainya 9… =))

24 11 2008
grace

eh, emangnya kalo komunikasi itu harus anak ipa ya?
temen saya anak komunikasi tapi dari ips tuh..
btw, salam kenal.. πŸ™‚

24 11 2008
Xaliber von Reginhild

FASILKOM WOI! FAKULTAS ILMU KOMPUTER!!! πŸ‘Ώ πŸ‘Ώ πŸ‘Ώ

[/capslock]

Seperti kata Unit076 dan mbak grace, Ilmu Komunikasi itu masuknya FISIP, dari IPS juga bisa… Apa hubungannya komunikasi dengan IPA? πŸ˜•

Poin 1, itu tergantung sekolahnya… ada jenis-jenis sekolah yang per kelas isinya cuma 20 orang, dan tadinya saya mau dimasukkin ke situ supaya lebih fokus belajar… tapi toh ini kembali ke muridnya juga to? Niat apa nggak sih dia belajar?

Poin 2, beberapa tahun lalu sistem penjurusan itu dilakukan saat kelas 2. Sistem penjurusan yang dilakukan pas kelas 1 itu tergolong masih baru. Di Labschool sendiri baru pas angkatan saya. Lagipula, sementara Anda berpendapat demikian, ada sebagian orang yang justru protes karena SMA di Indonesia tidak mau fokus; dengan kata lain, mereka justru mengharapkan ada penjurusan sejak dini. Alasannya? Spesialisasi. Spesialisasi pada bidang tertentu dan membuang yang dirasa tidak perlu, menurut mereka, terdengar lebih efektif dibanding memelajari sejubel pelajaran.

Poin 3, ini memang menyebalkan, karena nilai itu bisa dimanipulasi. Oleh siswa (nyontek) dan oleh guru (diedit-edit). Masalahnya, indikator yang semestinya bisa obyektif itu nilai. Karena kalau mengamati pola perilaku sang murid, ujung-ujungnya kembali ke preferensi guru aja. Bisa aja, misalnya, seorang guru agama yang menjadi wali kelas menganggap muridnya itu bandel lantaran dia nggak pernah solat, padahal sehari-harinya (selain agamanya) dia baik-baik aja.

Poin 4, menurut saya sih, kalo mau nyeni, sekolahnya ya di sekolah seni aja. Kalo mau sekolah ngilmu, sekolahnya di sekolah umum. Sesuaikan deh sesuai dengan kapabilitas otak. Kalo kayak begitu, hambatannya di mana? Paling di orang tua yang kepala batu.

@Hyou:
Masalahnya, kalo bukan UAN, apa patokannya?

Sebenarnya versi yang sekarang ini sudah tertolong karena ada bantuan nilai dari Ujian Sekolah. Jaman pra-kemerdekaan dulu, kelulusan sepenuhnya ditentukan dari Ujian Negara. Nggak lolos itu, ya modar. Ngulang lagi. Terus zaman Pak Harto awal sampai pertengahan, diganti jadi sistem Ujian Sekolah 100%. Negatifnya, pihak sekolah bandel dan ngedongkrak nilai. Dan sekarang ini kombinasi antara keduanya.

Kalo bukan dengan Ujian Nasional, standar apa yang bisa dipakai buat menentukan kelulusan dengan obyektif, secara serentak, secara nasional? Saya tidak menganggap UN adalah solusi yang 100% tepat, tapi kalo bukan UN, apa lagi?

@Adriano Minami:
Btw, sekali-kali komen yang panjang dong. Jadi enak diskusinya gitu, nggak mandeg. πŸ˜›

24 11 2008
Lemon S. Sile

Nyem.

24 11 2008
Xaliber von Reginhild

Btw, lain kali Annas masukin moderasi aja.

24 11 2008
novi~atrix

*habis baca 1,2,3,4*

BETUL!!!!
walaupun saya uda tamat, tapi saya juga mengalaminya

25 11 2008
fantasyforever

Saya setuju nomer 3. Hmm.. Betul banget tuh.

25 11 2008
grace

oalah…maksudnya fasilkom ya?
lha iya, kalo itu kayanya lebih ke ipa kan? Kalo gitu, kenapa ga di edit saja komunikasi nya yang di entry?

Btw, kalo menurut saya:

1. iya, setuju sama poin nya xaliber, memang itu tergantung sekolahnya, berapa quota maksimal untuk satu kelas nya. Biasanya di sekolah umum indonesia itu perkelas memuat 35-40 murid. Dan (lagi-lagi) saya setuju sama xaliber, ini tergantung juga sama muridnya, mereka niat belajar sungguh-sungguh atau ga? karna di tempat saya kuliah, kelas saya bahkan muat 60 orang, itu kelas biasa, kalo lagi mass lecture? bisa 100 lebih..
masalah guru bisa ngontrol muridnya, ibu saya pernah cerita, kalo waktu jaman ibu saya dulu, sistem pengajaran adalah diktatorship, jadi walaupun muridnya banyak, mereka tunduk sama guru, guru itu diktator, Ngontrol semuanya, tapi kemudian, apa itu yang kita mau?
menurut saya sih, point ini lebih cenderung mengarah pada efektifitas sistem pengajaran, dan bukannya jumlah murid.. CMIIW

2. saya lebih setuju justru pada spesialisasi yang di sebut xaliber. Menurut saya yang benci sekali pelajaran eksak, saya sangat bersyukur waktu akhirnya saya bisa masuk kelas ips, saya pikir, kenapa ga dari dulu aja begini? nilai2 saya sebelum penjurusan itu anlok2 karna pelajaran IPA yang; udah saya ga suka, ga kepake pula pas kuliah..(saya jurusan politik). kenapa ga dari dulu aja saya mendalami politik? Kan jadinya saya punya basic kuat ketika akhirnya saya masuk kuliah jurusan itu?
jadi justru saya lebih setuju bagian spesialisasi

3. lha kalo yang ke-3 ini saya setuju. Sebenernya menurut saya, mental penduduk indonesia juga yang harus di rubah, kenyataan bahwa sudah umum menganggap kalau dapat nilai 9, berarti anaknya pinter. Susah ini merubah yang begini, soalnya orang tua pun cenderung berpikir seperti ini.

4. wes, setuju ma xaliber. jadi spesialisasi dini itu penting..*mendukung pendapat sendiri di no 2*
:mrgreen:

*lirik komen*
maaf ya, jadi panjang begini… hehe

25 11 2008
Adriano Minami

@Hyou : Masalahnya, kondisi orang itu pasti beda2. Begini, kalo pas UN anda sakit/stres? Bisakah jadi penentu suatu hasil dari 3 tahun belajar dengan berbagai kondisi?

@Grace : Salah tulis, maaf :p. Rasanya sudah pernah tahu Blog anda sebelumnya? Pernah kesini bukan?

@Xaliber : Salah tulis, maaf.

Poin 1 : Sefokus2nya dan seniat2nya anda belajar, kalo kondisinya kacau balau dan tidak terkendali juga susah, dan pasti guru bakalan susah memilah mana yang butuh perhatian khusus, Dan pasti susah, menyebabkan susah nangkep juga anak2nya dan guru juga susah…

Poin 2 : Mas, SMA itu masih pendidikan dasar. Jadi wajar kalo saya lebih suka murid2 punya kemampuan IPA/IPS/Bahasa sejak SMA. Kalo dari SMA aja udah mulai dikenai penjurusan, pikirannya kan jadi sempit. Belajarnya itu2 aja, dan kita gak tahu gmana ntar masa depan? Apakah ilmu yang kita dapet kepake ato ilmu yang kita gak dapet justru dibutuhin ntar?

Poin 3 : Manipulasi nilai, ada satu hal yang suka saya tekankan kalo temen mau nyontek. Dan ini juga berasal dari quote komik yang saya baca “Ujian itu yang dicari bukanlah akhirnya, melainkan prosesnya”, nilai bisa dicari tapi kemampuan itu mahal. Jadi lebih baik dipikirkan manfaatnya di masa depan daripada sekedar manfaat sementara.

Poin 4 : Permasalahannya adalah. Masa hanya orang yang berkemampuan otak kiri saja yang dilihat dan dinilai “pintar”? Seharusnya mereka memiliki suatu alternatif, wong mereka juga mengharumkan sekolah dan bahkan negara bukan? πŸ˜€

– Koreksi, menurut saya US hanya menambah kesusahan saja, standar lebih tinggi, pelajarannya yand tidak “dibesar-besarkan” seperti pelajaran UN. Dan kalo gak bisa walau UN bisa tetep aja gak lulus seperti sebaliknya πŸ˜€

– Usul diterima πŸ˜€

@Novi-Atrix dan Virnity

Hal seperti ini menyebalkan sekali bukan? πŸ˜€

@Grace (lagi)

Sekali lagi, maaf… :p

Poin 1 : Masalahnya, gak semua guru bisa begitu. Dan tergantung muridnya juga, kalo murid2nya kepala batu gimana? Kan ada juga dimana segalak2nya guru tapi karena murid2nya bisa cengin dia, useless kan?
Tetep aja seperti yang saya sebutin ke Xaliber, pasti gak manfaatlah kalo kebanyakan orang
Poin 2 : Lah? Jangan berpikiran begitu, paling tidak setiap orang harus dibekali kemampuan dasar dalam setiap bidang aspek, bisakah anda tahu apa yang akan terjadi di masa depan?
Poin 3 : Nilai bukan segalanya, disini yang bergantung adalah punyakah dia kemampuan? Seperti kata mas Xaliber, nilai bisa dimanipulasi tapi tidak untuk kemampuan
Poin 4 : (Lihat pendapat di Poin 2)

-Gapapa kok, justru bagus. Melatih argumen saya ini :p *kicked*

25 11 2008
wyd

poin 2: kalau penjurusan baru dilakukan di perguruan tinggi, bisa2 anak2 belajar terlalu banyak jenis mata pelajaran tapi ga sampe detil.

poin 4: untuk mengoptimalisasilan otak kiri-kanan anak, semua mata pelajaran juga bisa melakukannya, kok. saya mengajar kimia, bisa aja bikin games yang merangsang daya kreativitas anak. jadi kayak natural sains dikombinasikan dengan art dan agama. pintar2 gurunya lah πŸ™‚

25 11 2008
Xaliber von Reginhild

@grace:
Wah? Rupanya saya jurusannya sama. Sama-sama Ilmu Politik juga. πŸ˜€

@Adriano Minami:
Iya, iya, yang capslock itu saya bercanda. πŸ˜› Cuma jauh amat, dari Ilmu Komputer nyasar ke Ilmu Komunikasi (walopun sama-sama Kom sih).

Poin 1, nah, maka dari itu, disini ada dua faktor. Pertama kebijakan sekolahnya sendiri. Mau murid banyak atau sedikit? Memang, kelas yang isi muridnya sedikit cenderung lebih efektif.

Kedua, ya muridnya itu. Masalah berisik apa tidak, lha itu juga datang dari muridnya sendiri, kan? Kalau kelasnya berisik, berarti murid-murid di kelas itu nggak niat belajar. Ngga– eh, belum sadar akan kebutuhan belajarnya. Kalo mau tenang, ya mesti didiamkan itu yang berisik. Dan, saya rasa, disinilah fungsi aslinya ketua kelas.

Saya ingat pernah punya ketua kelas yang benar-benar kompeten. Dikenal oleh sebagian besar teman seangkatannya, dan tahu kapan untuk belajar dan tahu kapan untuk berisik. Kalau kelas udah mulai nggak terkontrol, dia bisa menenangkan. Semestinya seperti itu ketua kelas. Bukan cuma korban keisengan atau murid yang dikenal orang-orang tapi cuma bisa berisik doang.

Poin 2, ya, saya juga sebenarnya bukan pendukung total spesialisasi. Spesialisasi memang penting, tapi basic-nya mesti tetap ada. Dan basic itulah yang semestinya ditanamkan saat kelas 1. Saat kelas 2, barulah spesialisasi dimulai. Cuma ya penentuan nilai tetap dari nilai pas kelas 1.

Di satu sisi, spesialisasi itu penting untuk membangun bangsa. Jadi tiap orang bekerja di bidangnya masing-masing; kalo di pemerintahan bisa jadi teknokratis. Tapi di sisi lain, spesialisasi bisa “membutakan”. Kalo di Amerika Serikat yang sudah dispesialisasikan sejak dini, IT ya kerjanya IT, social science ya social science, dsb. Akibatnya, pengetahuan di bidang lain jadi agak tersendat. Sampai ada acara namanya “Are You Smarter Than A 5th Grader?” yang bisa jadi indikator pengetahuan umum seorang Amerika. πŸ˜•

Poin 3… hoho! Somehow reminds me of [this]. πŸ˜›

Poin 4, kalo begitu sih IMO sudah beda kasus. Indikator yang digunakan memang otak kiri karena… ya memang itu yang dicari untuk ke depannya. πŸ˜• Seperti misalnya seorang analis ekonomi tentunya lebih membutuhkan kemampuan analisis kan daripada kemampuannya bermain musik?

Biarpun mereka memang mengharumkan sekolah, tapi ya otak kirinya mesti beres juga. Kalau mau fokus ke seni, ya sekolah di sekolah seni saja. Tidak jelek juga, kan? Nah, masalahnya ada pada beberapa orang tua yang mungkin tak mau anaknya sekolah di sekolah seni.

Dalam hal pengaplikasian pada mengajar, saya setuju sama mbak wyd. πŸ˜€

– Koreksi, menurut saya US hanya menambah kesusahan saja, standar lebih tinggi, pelajarannya yand tidak β€œdibesar-besarkan” seperti pelajaran UN. Dan kalo gak bisa walau UN bisa tetep aja gak lulus seperti sebaliknya πŸ˜€

Kalau begitu, perlu kah kita mengandalkan hanya Ujian Nasional saja seperti dulu? πŸ˜•

26 11 2008
grace

hmmmmm~
kalo menurut saya begini:
1. IMO, maksimalitas dari efektifitas suasanan belajar tidak hanya didukung oleh murid saja (jumlah murid, niat murid), tapi juga kualitas seorang guru, struktur kelas yang efektif, jadi di samping punya murid2 yang emang merasa butuh untuk belajar di sekolah, trus struktur kelas yang efektif (sprti yang disebut xaliber), juga peran guru yang kuat, seperti, peka terhadap masalah murid, bener2 mau membimbing murid, dan bukan cuma makan gaji buta doang. Sedangkan masalah terpentingnya yang saya lihat justru kok bukan terletak di jumlah murid dalam satu kelas ya? tapi lebih ke bagaimana memunculkan kesadaran bagi anak murid untuk mau belajar dan membutuhkan belajar. Sehingga proses belajar akan jadi efektif nantinya..Lha kalo ini udah cerita lain lagi, mungkin kaitannya lebih ke masalah sosial, CMIIW.
jadi poko’e, semua pihak mengoptimalkan fungsi masing2, yang murid ya berlakulah sebagai murid, yang guru sebagai guru, dan yang ketua kelas, ya sebagai ketua kelas..

poin ke dua : iya sih emang setiap anak harus di bekali basic, tapi menurut saya, basic itu kan cukup sekali kita dapatkan di masa SMP, dan sisanya di dapatkan dari baca-baca koran, internet, dll.
tapi memang betul sih kalau begitu pengetahuan murid jadi terlalu limited dan narrowed down/
Yah, tapi imanapun entah kenapa kok saya masih lebih memilih spesialisasi dini ya? mungkin karena pengalaman pribadi aja sih.. πŸ˜›

3. btw, saya setuju kok kalau nilai memang bukan segalanya. MAsalahnya, IMO, terletak pada mind set org2 indonesia itu sndri. Orang tua apalagi, kalau anak mereka dapat nilai 9, berarti pinter-pinter. tanpa tau kemampuan asli sebenarnya si anak, tanpa peduli apakah nilai itu hasil manipulasi atau bukan. Lha si anak, yang dipuji2, makin berpikir bahwa gimanapun harus dapet nilai bagus, mau hasil manipulasi kek, yang penting orang tuanya seneng, tanpa berpikir kemampuan dia ga sebanding dengan nilainya..nilai oriented lah. lagi2, ini IMO, masalah sosial, lebih ke mind set orang indonesia soal nilai dan pendidikan. Lha itu yg IMO, harus segera di rubah..

point ke 4 : haduh, saya nyang ini agak los pokus.. mohon di maafkan..

btw, moga2 mengerti maksut yang ingin saya sampaikan di komen saya..agak bingung saya juga neranginnya..hehe
:mrgreen:

26 11 2008
grace

btw, xaliber juga jurusan politik, ya?
*toss*
ah, tapi kayanya saya masih ga ada apa-apanya deh di banding sama xaliber..
*merasa rendah diri*
:mrgreen:

26 11 2008
fantasyforever

Wew.. Jadi puyeng baca komen yang puanjang2. *dizzy mode on*

Btw mas, dapet reward tuh. Coba cek di blog saya. hehe. :mrgreen:

26 11 2008
reverseinverse

*baca cepat*
bener tuh~

anak sekolah sekarang yang ada bukan ngejar ilmu, tapi ngejar nilai, ya jadinya kacau. Orang berramai-ramai nyari contekan lah, beli soal lah, de el el. Kalau kayak gitu, mau gimana seterusnya ?

Satu lagi juga, biaya sekolah indonesia yang lumayan besar juga salah satu kegagalan sekolah. Gila aja, masa mau masuk kuliah di salah satu fakultas unggulan universitas favorit aja bisa sampai bayar ratusan juta. Kan namanya gak masuk akal kalau dibanding dengan biaya negara lain.

27 11 2008
Xaliber von Reginhild

@grace:

Lha si anak, yang dipuji2, makin berpikir bahwa gimanapun harus dapet nilai bagus, mau hasil manipulasi kek, yang penting orang tuanya seneng, tanpa berpikir kemampuan dia ga sebanding dengan nilainya..nilai oriented lah.

Aha… saya jadi ingat seorang teman yang pernah dinasihati waktu nilainya jelek, “Pokoknya nggak mau tau gimana caranya, semester depan nilaimu harus bagus!” Dan, well, nilainya memang jadi bagus semester berikutnya, tapi caranya ‘berbeda’. πŸ™„

btw, xaliber juga jurusan politik, ya?
*toss*
ah, tapi kayanya saya masih ga ada apa-apanya deh di banding sama xaliber..
*merasa rendah diri*

Ah, saya kan masih semester 1. ^^; Masih lebih hijau saya lah…

29 11 2008
agunk agriza

intinya sekolah di indonesia gagal semua kan?
sip, gw stuju πŸ™‚

29 11 2008
Adriano Minami

Wah, makin ramai saja ini :mrgreen

@wyd :

Poin 2 :Iya juga sih, memang seharusnya ada pengarahan khusus. Tapi kalo gak punya kemampuan sama sekali kan berabe, kayak di IPA hampir ga belajar IPS (Padahal beberapa jurusan IPS malah dari IPA) atau sebaliknya

Poin 4 : Hmm… bisa2 πŸ˜€

@Xaliber :

Poin 1 : Ini menganggu orang2 yang niat bener2 belajar namanya, harus dipisah paling tidak.

Ketua kelas? Tanya Darta deh gmana ketua kelas kelas saya. Orangnya malah contoh paling buruk di kelas

Poin 2 : Itu yang saya khawatirkan dari spesialisasi, anda nantinya gak bisa bantu anak atau orang lain dalam mengerjakan yang “bukan ahlinya”. Jadi itulah alasan mengapa saya tidak setuju spesialisasi

Poin 3 : Wakakak, sebetulnya semua ulangan di Indonesia itu mengujikan satu mata pelajaran yang sama. Yaitu, Menyontek =))

Poin 4 : Gak segitunya, cuma kurang dioptimalkan disini kadang2

-Lebih parah, malah menurut saya lebih baik seperti Ebtanas 😦

@Grace :

Poin 1 : Sayang disini gak kayak gitu :(, pada males karena ngerasa kebanyakan duit

Poin 2 : Setuju sekali pada pendapat anda, spesialisasi itu terkadang “menguntungkan” lho.

Poin 3 : Saya sedang memikirkan cara lain selain nilai lho…

Poin 4 : Gapapa kok, saya juga kadang :p

-Oke, ngerti kok πŸ˜€

@Virnity : Thanks πŸ˜€

@Reverse :

– Itu kan salah satu contoh kegagalan sistem pendidikan dan pengajaran, yang menyebabkan murid2nya bermental sopir angkot (Masa bodo yang penting “setoran” dapet

– Itulah penyebab kita kekurangan tenaga ahli πŸ˜€

@Xaliber (lagi)

Contoh yang bagus πŸ˜€

@Agunk : Sip!

1 12 2008
Reginhild

@Adriano Minami:
Poin 1:
Yah… itu dia. Murid-murid tampaknya masih belum menyadari fungsi asli ketua kelas. Seringkali dipilih adalah antara orang yang gaul (dikenal banyak orang), atau orang yang bisa dijadiin lawakan. Jumlah murid mengganggu proses belajar? Blame the students, not the teachers. [/ignorantMode]

Poin 2:
Tapi itu bukan berarti spesialisasi adalah haram, kan? Harus diakui, tanpa spesialisasi maka siswa akan belajar terlalu banyak. Bagus kalo mereka memang niat serius belajar, pelajaran masih masuk. Lha kalo nggak? Cuma buat bahan nyontek doang. Apalagi, tahu sendiri, ada yang namanya menyukai pelajaran tertentu saja, kan. πŸ˜•

Tambahan pengetahuan sebenarnya bisa diperoleh dari non-akademis, seperti mbak grace bilang. Kalo mereka jadinya terjebak di dunianya sendiri ya salahnya sendiri nggak mau berkembang. πŸ˜›

-Lebih parah, malah menurut saya lebih baik seperti Ebtanas 😦

Ebtanas kayak gimana sih? Lupa saya. πŸ˜› Bukannya Ebtanas itu patokannya nilai dari Ebtanas-nya aja ya? Jadi ngga ada ujian sekolah.

intinya sekolah di indonesia gagal semua kan?
sip, gw stuju πŸ™‚

Now, now, don’t swing a hasty generalization here. πŸ˜‰

Maaf jadi komen seenaknya. πŸ˜›

2 12 2008
Grace

Iya lho..ga smua sekolah itu gagal..
Beberapa kekurangan sanasini tidak berarti sbuah kegagalan..
*dariKemarinGatelPengenkomenSebenarnyaTapiTakutJadiKepanjanganLagi*
:mrgreen:

10 01 2009
tasya

halo saya tasya, siswa salah satu sma di jakarta. Mohon bantuannya, dan mohon numpang di halaman Adriano Minami. πŸ™‚ Dalam salah satu syarat kelulusan, saya diwajibkan membuat suatu karya tulis. Dan dalam karya tulis tersebut saya mengangkat masalah mengenai efektivitas dari penjurusan yang dilakukan di sma, sesuai yang dibahas di atas. hehe.

Karena itu saya mohon pendapat anda sekalian mengenai 2 hal :
1. Mengapa ada masyarakat yang beranggapan bahwa IPA yang terbaik? dibandingkan dengan jurusan IPS atau pun bahasa
2. Bagaimana pengaruh penjurusan di SMA dalam perkuliahan dan karir seseorang? jika seseorang tersebut memilih jurusan yang tidak sesuai dengan bakat dan minatnya

yakinlah sepanjang apapun tanggapan anda sangat membantu saya. Terima kasih banyak! πŸ™‚

Atau melalui email : tasya.man@hotmail.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: