Kartun Amerika Vs Tontonan Orang Indonesia

19 10 2008

Ahh.. sebelumnya saya minta maaf karena tidak punya waktu untuk updet Blog ini, jadi agak jarang2.

Jadi, mengapa kali ini saya mau bahas tentang Kartun? Begini, ternyata saya menemukan suatu hal yang cukup menarik mengenai ini. Baiklah, saya akan jelaskan apa yang saya maksud dengan Kartun

Kartun atau Cartoon yang saya maksud adalah berbagai tontonan berbentuk Animasi buatan AMERIKA , jadinya saya tidak akan membahas kartun Jepang atau Anime atau buatan negara lainnya.

Suatu pagi, saya menonton suatu kartun di suatu Channel TV jam 7 Pagi. Kartun yang saya tonton itu memang sudah saya tonton sejak kecil, namun pada pagi itu saya melihatnya berbeda sekali dengan biasanya.

Dan saat itu tiba2 saja ayah saya berkata “Ternyata orang Amerika sejak kecil nontonnya udah penuh dengan kekerasan, pantes orang Amerika seneng ama yang kekerasan2 gitu. Bahkan tertawa karenanya”. Iya, setelah saya pikir2 Kartun Amerika itu memang banyak yang mengandung kekerasan, seperti Tom and Jerry, Droopy, Harveytoon (Casper dkk), Kartun Walt Disney, sampai yang terbaru yaitu Spongebob Squarepants.

Memang, tontonan Amerika yang seperti itu memang sarat dengan kekerasan, bahkan cenderung berlebihan. Dan kartun2 itu terutama yang dibuat pada masa Perang Dunia kedua cenderung membicarakan tentang kebodohan bangsanya sendiri dan bisa juga sebagai sindiran, bahkan provokasi. Berbeda sekali dengan Anime Jepang yang cenderung lebih realistis dan bernilai kehidupan, tetapi tidak semuanya.

Dan tontonan seperti itupun mempengaruhi mental anak2 yang menontonnya, George W.Bush pun dibesarkan pada saat2 masa kejayaan tontonan seperti itu, sehingga tidak menutup kemungkinan sifatnya yang seperti itu disebabkan oleh tontonan2 itu.

Kartun2 seperti itu walau sedikit bisa mempengaruhi mental para penontonnya, dan sayangnya ternyata di Indonesia juga banyak tontonan sesadis ini. Seperti lawakan yang tidak jelas mengenai Banci, Omongan2 Kasar, dan Seks. Lalu tontonan yang memanfaatkan keadaan orang susah, kriminalitas, tontonan pembuat kebencian (Sinetron) dan sebagainya. Menurut saya, tontonan sejenis itu justru jauh lebih potensial merusak mental daripada Kartun. Lihat saja, sejahat2nya Amerika namun mereka tidak picik, tidak berpikiran pendek. Namun orang2 disini yg menonton acara seperti itu terlihat lebih picik, berpikiran pendek, tidak peduli, selalu menertawakan kesulitan orang dan cenderung tidak suka perbedaan (Sesuatu yang baikpun terkadang dicerca).

Sekian saja, sebelumnya saya minta maaf jika tulisannya kurang berkenan, saya tidak bermaksud memihak Amerika ataupun menjelek2an Bangsa sendiri, saya hanya menulis demi perbaikan. Dan mohon maaf jika ada kesalahan, kritik dipersilahkan

Iklan

Aksi

Information

19 responses

19 10 2008
Lemon S. Sile

Kekerasan FTW!!!

the question is…kenapa pasar suka? ah, saya cuma memutar-mutar masalah kalau seperti ini.
ada yg pengen saya sampaikan tapi ribet…kapan-kapan aja deh.

19 10 2008
Xaliber von Reginhild

Sekilas seperti… tendensi terhadap kartu Amerika? 😕

Rasanya itu yang disebut humor slapstick, dan rasanya bukan Amerika saja deh. Anime Jepang kalau ngga salah juga ada yang menawarkan kekerasan sebagai komedi.

@Lemon: Kenapa pasar suka? Menurut saya sih karena bentuk humor ini yang paling natural dan mudah diterima sebagian besar orang. 😀 Nggak hanya di Indon. Seperti kata orang, “humor [slapstick] selalu lucu kalau dialami oleh orang lain.”

21 10 2008
grace

lebih parah lagi sinetron,kan?
tontonan ga mutu! yg nontong juga anak2…adek saya yg 8 tahun aja suka..pdhl cowok..=_=
btw, saya juga pernah mau bikin potingan kaya gini..
nanti kalo bikin saya link nya postingan ini..^^
salam kenal 🙂

22 10 2008
Cynanthia

Yang bikin saya heran: apa mereka tidak punya nalar? Harusnya paham dong kalau hal-hal kayak gitu tidak pantas untuk anak-anak, tapi kenapa tetap saja ditayangkan pada jam di mana anak-anak banyak yang nonton? =_=

Satu hal yang lagi yang bikin saya miris tuh sinetron yang mainnya anak-anak kecil yang masih lucu-lucunya. =_=

Adik-adik kita mau jadi orang macam apa nantinya? 😦

23 10 2008
syaorannatsume

Saya jarang nonton kartun Amerika… apalagi acara Indonesia.

Perbedaannya yah… (menurut saya), kalo acara Indonesia ga terlalu bikin fresh. Tapi kartun Amerika tetap membuat sedikit… tertawa? Seperti nonton Tom and Jerry atau Sponge Bob. Memang unsur kekerasannya kadang terasa, tapi tetap saja bikin lucu.

Yang jelas, Japanese Anime still the best!!!

24 10 2008
Lemon S. Sile

@Xaliber von Reginhild:
Yep, yep… betul kata Anda. Slapstick sebenarnya adalah sebuah humor yang amat umum. Kita sebagai orang yang sudah berpikir (dan kebetulan tidak suka) mungkin berpikir slapstick adalah sesuatu yang murahan. Tetapi bagi mereka yang menyukai tetap saja itu lucu. Kalau mau menolak itu sama saja dengan Anda menolak senioritas dalam os 😕

…dan saya sebenarnya juga kurang setuju pada pernyataan:

Anime Jepang yang cenderung lebih realistis dan bernilai kehidupan, tetapi tidak semuanya.

Bagusnya, Anda memberikan netralisasi dengan kalimat “tetapi tidak semuanya”. Tapi kalau mau dibilang Anime Jepang lebih realistis, setahu saya jumlah lebih sedikit. Memang latar Anime Jepang lebih familiar karena seputar kehidupan sehari-hari, berbeda dengan kartun AS yang asal-muasalnya entah dari laboratorium atau planet lain. Tapi toh inti cerita anime Jepang justru akhirnya jadi cenderung lebih “mimpi” ketimbang kartun AS.

beberapa anime Jepang yang menurut saya memang pantas dibilang normal: Kobo Chan, Kariage Kun, Yotsuba, mungkin itu saja sebatas pengetahuan terbatas saya 😆

…dan sekedar informasi, saya ini orang yang suka kartun/komik Amerika demikian juga anime/manga. *ga penting* 😆

24 10 2008
Adriano Minami

@Lemon S. Sile (Semuanya) : Memang banyak komik2 Jepang yang lebai, bahkan komik Jepang favorit saya juga lebai.
Tapi paling tidak nilai kehidupannya lebih ada.

@ Xaliber : Begini, andaikata alien dari planet lain berkunjung ke Bumi dan melihat orang2 tertawa melihat Slapstick. Tentu yang terjadi mereka akan beranggapan bahwa orang2 bumi senang lihat orang lain kesusahan

@Cynan : Mungkin mereka itu benar2 hanya mengejar rating tanpa mempedulikan aspek2 lain

@SyN : Menurut saya, tontonan Indonesia itu salah satu yang terburuk lhoo

26 10 2008
agunk agriza

tontonan Indonesia itu salah satu yang terburuk, dan saya ada dimasa dimana tontonan itu sedang populer, apa saya akan seperti george w.bush? amit2 deh.

salam kenal 😉
tukeran link yuu…

26 10 2008
Adriano Minami

Tontonan Orang Indonesia itu adalah tontonan brutal dan tidak mendidik, bahkan negara2 yang cenderung liberal menampilkan tayangan yang jauh lebih bermakna

Salam kenal juga :D, oke

28 10 2008
Xaliber von Reginhild

@Adriano Minami:

Tapi paling tidak nilai kehidupannya lebih ada.

Nilai kehidupan, dalam artian..? 😕 Kegiatan sehari-hari kah?

Saya agak kurang setuju kalau dinilai komik Amerika kurang bernilai kehidupan. Buat yang mainstream macam DC Superheroes atau Marvel barangkali memang mengada-ngada (sama halnya dengan membunuh tuhan-tuhan di Bleach atau memanggil kodok di Naruto, rasanya). Tapi Amerika juga punya “Famous Funnies” yang rasanya menyindir kehidupan sehari-hari masyarakat disana. Belum kalau mau menghitung webcomic. 😉

*biar begitu kayaknya webcomic di luar konteks ini ya*

2 11 2008
Hyou

kartun amerika sih emang ada kekerasannya, tp kekerasannya ga ngarah ke yg sadis (kaga ada darah muncrat2 di filmnya)… kalo dibilang anime lebih realistis mah kaga juga, malah di beberapa anime kekerasannya bias lebih parah daripada kartun amerika kalo ditonton anak2 di bawah umur (cth: bleach)… =))

tp kartun amerika & kartun jepang masih ada bagian yg ngedidiknya kok biasanya kalo dibandingin dgn sinetron2 indo… =))

3 11 2008
Adriano Minami

Pertama2, saya mohon maaf terlebih dahulu atas tulisan2 saya sebelumnya

Anime Jepang dan Kartun Amerika yg saya maksud bukan yg seperti itu jadi sepertinya pemahaman saya kali ini cukup sempit

Anime Jepang memang terkadang tidak logis, begitu pula dengan Kartun Amerika. Tapi melihat keduanya, itu lebih condong ke cara hidup dari masyarakatnya masing2

Akan saya jelaskan lain kali *kicked*

7 11 2008
Filo

……Ini masalah rating

Naikkan saja semua rating Kartun US (dan Jepang?) 1 peringkat.

Spongebob dari G di US, menjadi PG(Parental Guidance) disini.

The Simpsons dari PG di US, menjadi TV-14 atau 18 disini.

Tertawa karena kekerasan ? Kalau di Tom & Jerry aku ketawanya ya karena ekspresinya, gmn alurnya jadi sampe terjadi kayak gitu, kalau tahu2 ada adegan Tom dipukulin ya lucunya dimana. Dan lihat2 dulu produsernya siapa, apa si Fred Quimby atau bukan, soalnya ada perbedaan gambar dan humor sekalipun kartunnya sama (beda dengan anime Jepang)

Nah susahnya kebanyakan orang Indonesia, karena gak ngerti humornya atau lucunya dimana, tertariknya ya pas gebuk2an aja, dan itu cuman mesam mesem aja sambil ngomong “penuh dengan kekerasan”.

Spongebob lebih susah lagi, The Simpsons ? itu jelas2 humornya US.

Kalau ada orang digebukin real life di TV ya aku gak ketawa. Saya sih gak tahu bagaimana pikiran orang US tentang kartunnya sendiri (bisa jadi kekerasan via kartun masuk ke pikiran mrk semenjak kecil), tapi sy sebagai orang yang masa kecilnya sering nonton kartun US khususnya keluaran MGM, ya saya gak ada masalah dgn kekerasan.

Dan lebih lucu pas saya nonton sekarang daripada pas kecil dulu.

Our Humor and Their Humor(US-Jap), ada perbedaannya. Baru setelah ada Sitcom US macam Cosby Show, Friends, dst baru selera humor kita berubah jadi seperti di Extravaganza.

Bicara sinetron, memang masih ada sinetron2 Indonesia peninggalan Orde Baru yang masih awet sampe sekarang, tapi tinggal tunggu waktu saja, boomingnya sudah lewat menurutku.

7 11 2008
Adriano Minami

Hanya perbedaan pendapat, menurut saya lho.

Tontonan suatu bangsa itu adalah cerminan bangsa itu. Tetapi jika seseorang melihat tontonan bangsa yang lainnya, yang akan terjadi adalah perbedaan pendapat dan sudut pandang

12 11 2008
Reginhild

Bicara OrBa, rasanya sinetron peninggalan rezim Pak Harto itu adalah yang masih bisa memberikan makna positif bagi perfilman Indonesia. 😀

Soal humor, mungkin ada yang tertarik untuk membaca [ini].

25 06 2009
Aryan

Hi, salam, ingin nambahin komentar saja ya…

menghadirkan kelucuan yang bisa dimengerti semua pihak melalui media animasi nggak gampang, lho, jadi umumnya yang banyak dipakai sutradara ya adegan slapstick..coba perhatikan semua tayangan kartun negara2 lain…dengan pengecualian beberapa karya yang memang spesial untuk balita..

soal kartun dan kekerasan tayangan, intinya sama saja, di negara manapun masih perlu bimbingan orang tua dan ketegasan pihak berwenang terhadap tayangan..

17 12 2009
Rayhan

dua-duanya itu jelekk,walaupun saya suka dua duanya,tapi saya tau kekurangan dari dua-duanya.

Cartoon (Kartun Amerika):
-Suka banyak cinta-cintaanya,bahkan ada yang ciuman bibir,dan juga ada kekerasannya.

Anime (Kartun Jepang)
-Suka banyak cinta-cintaanya,jijik kalo ngeliat.Kekerasannya juga banyak.

Semua kartun gak sempurna.

17 12 2009
retardedasever

Well, saya gak bisa berkomentar banyak. Saya cuma bilang kalau masyarakat Indonesia belum bisa mencerna itu tayangan.

Gak ada kesalahan di US ama Jejepanganya sih. Mereka juga buat tontonan buat pangsa pasar negara mereka. Jadi, Indonesianya aja yang saringannya “rodok gak genah”

IMO loh ya, IMO.

17 12 2009
Annasophia

komentar ini (Filo)

Our Humor and Their Humor(US-Jap), ada perbedaannya.

dan (retarded)

Gak ada kesalahan di US ama Jejepanganya sih. Mereka juga buat tontonan buat pangsa pasar negara mereka. Jadi, Indonesianya aja yang saringannya “rodok gak genah”

kombinasikan maka akan tercipta kesimpulan:

Bahwa pada dasarnya mereka ngebuat ya buat bangsa mereka masing-masing. Namanya bicara bangsa ya jelas Indonesia dengan Jepang dan US beda. voila!

meski… (Filo lagi)

Baru setelah ada Sitcom US macam Cosby Show, Friends, dst baru selera humor kita berubah jadi seperti di Extravaganza.

bisa terjadi seperti itu.

dan tak terlupakan bahwa Xaliber menyebut ini

Tapi Amerika juga punya “Famous Funnies” yang rasanya menyindir kehidupan sehari-hari masyarakat disana.

Jadi pertanyaannya ketika Indonesia membuat sesuatu yang dirasa ‘baru’, sebutlah seperti yang sudah disebut-sebutkan di entri ini (…Seperti lawakan yang tidak jelas mengenai Banci, Omongan2 Kasar, dan Seks. Lalu tontonan yang memanfaatkan keadaan orang susah, kriminalitas, tontonan pembuat kebencian (Sinetron) dan sebagainya….) apakah itu berarti memang masyarakat kita keadaannya seperti itu?
Saya jadi teringat perkara dalam UU Perfilman, yang mengatakan bahwa tidak boleh menampilkan adegan kekerasan, seks, mabuk2an, atau apa lah saya agak sangsi dengan ingatan saya. 😕
Saya jadi bertanya, jadi apakah itu berarti kita dituntut membuat film yang menggambarkan utopia? Sedangkan film adalah salah satu agen sejarah yang bisa menggambarkan kondisi suatu masyarakat dalam lingkup waktu dan lingkungan tertentu?

wah, ngalor ngidul..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: